02 janvier 2003

Penantian Panjang Bernama Lisa

untuk s.a.s
Oleh Julian Verne

Julian duduk di hadapan sebuah lemari buku dalam kamarnya yang sekaligus menjadi keseluruhan rumahnya. Jendela-jendela ia biarkan terbuka hanya untuk mendengarkan gemericik hujan yang satu jam lalu datang mengganggu rencana sorenya. Satu jam seolah dunianya berhenti.

Sore sehabis hujan, dan bau tanah dibasahi air hujan merambati sel-sel syarafnya. Musim hujan di bulan yang selalu mengulang, Desember. Selalu mengulang, seperti sebuah siklus hidup. Baru kali ini ia sadari bahwa jiwanyapun, seperti mamalia lainnya, ternyata belum bisa sepenuhnya lepas dari pengaruh alam. Ketidakpastian datang kembali, datang berselimutkan kebosanan dan sepi, runtuhkan sebuah semangat diri yang ia bangun dan yakini.

Televisi di sampingnya terus menyala sejak pagi tadi, temani dirinya menyiapkan diri untuk sebuah perjumpaan yang ia nantikan sejak ia tiba di Jakarta. Julian memiliki sebuah rencana, yang terbaik yang pernah ia reka-reka dalam pikirannya. Hari ini aku akan bekerja giat, hari ini aku akan mulai olah raga, hari ini aku akan kembali menghirup udara sore sehabis hujan, hari ini aku akan mulai menghirup uap kopi sebelum menyeruputnya setiap sepuluh menit, dan sejuta keinginan yang aku inginkan setelah aku bertemu dengan dia.

Televisi tetap menyala, speakernya mengalunkan lagu dalam video klip yang cukup tolol, entah sutradara dungu mana yang membuatnya. Tak ada pilihan, ia butuh sesuatu untuk menemaninya dan radio-tapenya masih diperbaiki kawan lamanya. Ketololan televisi tetap mengalir, temani aliran lamunan Julian yang kini terhenti karena hujan reda. Terlambat 45 menit karena hujan. Ia berpikir sebentar, dan mengambil segegenggam koin seratus rupiah dan bergegas menuju telepon koin yang menempel di ruang makan di lantai bawah.

***

"Halo? Kamar 516."
"Baik, pak."

Satu menit berlalu diiringi lagi 'Ode To Joy' Bethoven. Entah mengapa, sekali lagi ia berpikir semua lingkup budaya di sekitarnya telah dihempaskan menjadi ketololan, seperti video klip dan iklan tolol yang mengirinya sepanjang sore tadi.

'Ode To Joy' terhenti digantikan oleh keheningan panjang.
"Maaf, pak. Kamar 516 sedang pergi tampaknya."

Hotel murah! Menyebut nama penghuninya pun tidak. Tapi itu bagusnya, anonimitas. Ia ingat hotel itu. Berbentuk seperti gedung perkantoran sepuluh lantai, dengan puluhan kamar berharga miring di tengah kota. Tak heran jika menjadi tempat transaksi prostitusi.

Tanpa terasa kepalanya menyentuh baja dingin cangkang telepon koin itu. Dia tidak ada, kemana? Pergi, untuk biarkan malam sepi kembali hantui dirinya. Lalu dengan gontai melangkah kembali ke kamarnya. Tempat tidur menjadi tujuannya, rebahkan diri dan kembali ditemani televisi tolol itu. Mungkin menanti hujan yang sirami sepi malam, gantikan dengan gemericiknya. Sepi, suntuk, bosan.

Malam ini seharusnya menyenangkan. Cerita-cerita masa lalu akan ditumpahkan untuk warnai makan malam bersama. Canda dan tawa seharusnya, semestinya menutupi segenap penghitungan waktu dalam kepala, untuk biarkan detik, menit, dan jam berlalu dalam rezim keceriaan. Gairah mengisi dua kepala yang berbeda untuk bangkitkan malam ini bergerak, sampai beringsut menjemput pagi. Tapi ini, kembali terlalu berharap.

Acara televisi, kini berganti diisi oleh DRTV. Beragam peralatan olah raga, pil awet muda, obat pemutih kulit, mungkin tahun depan mereka bisa saja menjual kondom 'glow in the dark'. Sangat cocok untuk pasangan yang suka gelap-gelapan dan berinsting lemah. Mungkin saja dengan catchwords: "Dengan Rp 99999, Langsung Masuk Di Sasaran." Ha! Mungkin dia akan suka terbahak-bahak melihat iklan itu, dan bosannya sedikit berkurang.

Tapi untuk malam ini, ia kembali televisi tolol menghantarkan bosan ke dalam kepalanya, dengan segala pertunjukkan tolol lewat tengah malam untuk melelapkan tidurnya.

***

Pagi yang luar biasa dingin. Ia sudah terbangun satu jam sebelum matahari terbit. Sudah ia panjat rumah kosnya itu, menuju atap dan duduk di sana mengenakan kaca mata hitam menanti mentari terbit. Jangan tanya kenapa ia lakukan itu, toh ia sendiri masih enggan untuk memikirkan alasannya ketika kakinya memijak genting pertama di atap. Angin semilir karena rumah kosnya berada di antara dua rumah yang lebih tinggi.

Mentari ternyata tidak muncul seperti yang ia harapkan. Segumpal awan di horizon timur sangat tepat menutupi jalur terbit matahari. Sudahlah, pikirnya dalam hati. Bukan ini mungkin hari baiknya. Dan sambil menggerutu ia beringsut menuruni atap. Tangannya bergetar, dan lututnya sulit mengarahkan telapak kakinya ke pijakan-pijakan yang ada. Ia baru sadar, ia takut ketinggian. Sial.

Upaya menghindari siaran televisi pagi yang tolol ternyata hanya membawa kesusahan baru saja. Peluh dingin dari phobia yang ia miliki sudah membasahi sekujur tubuhnya ketika dengan penuh kelegaan kakinya menapak tanah kembali. Akhirnya.

"Jul?"
Ia menoleh, mendapatkan pemandangan yang ia nantikan jauh sebelum kemarin sore.

"Lisa? Kapan datang?" Lalu mereka berpelukan, dan gejolak yang mereka pendam membawa bibir mereka bertemu.

"Ayo, masuk ke kamarku saja. Mau minum apa? Sudah sarapan? Sampai kapan kau di sini…" Julian meracau seperti nenek cerewet yang bertemu dengan cucu kesayangannya, pertanyaan-pertanyaan terlontar seperti dihamburkan senapan mesin. Mulutnya tak henti-henti melontarkan pertanyaan, baik yang bodoh ataupun tidak. Bahkan banyak yang tidak nyambung, tidak perlu, hanya untuk iringi gerak tubuhnya menyiapkan teh manis, mondar-mandir mencari asbak, dan mengambil persediaan biskuit di balik tumpukkan baju-bajunya. Ia sengaja siapkan biskuit itu hanya untuk Lisa. Sementara perempuan itu hanya duduk, diam tak sekalipun menjawab pertanyaan Julian, hanya tersenyum melihat Julian, memperhatikannya yang sedang menunjukkan betapa ia memiliki perhatian, atau sesuatu yang istimewa, untuk Lisa.

Ketika Julian merasa kamarnya masih kurang bersih dan ingin mengambil sapu, ia terhenti, tersadar bahwa sudah kehabisan pertanyaan. Dan dari semua pertanyaan yang ia lontarkan tak sedikitpun yang sudah terjawab. Ia menoleh ke Lisa, yang hanya tersenyum memperhatikan gerak tubuh Julian yang salah tingkah. Julian terdiam dan pandangan mata mereka bertemu. Sudah terlalu lama tidak ada perempuan yang bisa membuatnya demikian. Seperti anak kecil saja, atau mungkin lebih tepat, cukup orang aneh saja. Lalu ia turunkan badannya dan duduk, menuang teh ke dalam dua buah cangkir, sambil menawarkan rokok kepada Lisa.

Setelah lima belas menit penuh kecanggungan Julian, Lisa mulai berbicara. Dan perbincanganpun yang mereka nantikan dimulai.

***

Mereka telah bertukar cerita selama dua jam, saling bercanda dan terkadang saling bercumbu meski masing-masing masih kembali menahan diri. Terlalu lama mereka terpisahkan jarak, dan hubungan yang mereka alami, saat pertama dan terakhir sebelum ini, terlalu singkat. Dua hari, tanpa sedikitpun pernah saling mengenal. Tanpa pernah terjadi pertukaran pikiran. Tanpa kemudian pernah ada ikatan yang terucap ataupun tertulis. Semua terjadi begitu saja, dan keduanya hanya menikmati apa yang terjadi.

Hanya saja, tiba-tiba Lisa terdiam sesaat, ketika Julian bertanya apa sebenarnya yang membawanya ke kota ini. Sorot matanya tiba-tiba berubah, dari ceria menjadi dingin. Tangannya mengangkat gelas dan dipandanginya gelas tersebut dalam-dalam. Julian juga terdiam. Pertanyaan ini memang terlontar begitu saja, dan tak pernah ia nyatakan sebelumnya, dan memang Julian terlalu gembira dengan kedatangan Lisa sehingga tidak menanyakan kenapa Lisa datang.

"Awalnya adalah sebuah pertanyaan tentang makna hidup," Lisa membuka penjelasannya. "Satu tahun setelah pertemuan kita yang pertama itu, Jul, arungan hidup berubah. Begitu suram, sedih, dan gelap, hanya karena pertanyaan yang mengganggu itu. Bukan karena kau memang, toh seharusnya kita tahu bahwa pertemuan itu tak harus bermakna apa-apa. Tapi obrolan kita tentang dunia, tentang perang, tentang kelaparan, tentang segala yang kau pernah kau tulis dalam catatan arungan duniamu, sangat menggangguku. Aku heran ketika saat ini kulihat dirimu seperti tidak pernah terganggu atas semua itu."

"Aku terganggu," jawab Julian pelan. "Tapi kunikmati saja ketergangguanku. Hanya lanjutkan dan nikmati hidup."

Lisa melanjutkan penjelasannya dengan menguraikan satu persatu pengalaman-pengalamannya selama satu tahun. Jangan tanya detik, menit, dan jam yang telah ia lalui. Hari, minggu, bulan, dan tahun melintasi hidupnya tanpa pernah sesuai dengan yang dulu ia pikirkan dalam masa kecilnya. Tidak, bukan kesengsaraan. Bukan juga, kebahagian seterusnya seumur hidupnya. Dia lebih banyak berbicara soal waktu yang bermakna sesuai dengan keinginannya, soal gerak hidup yang telah membawa, menyeret, dan menghempaskan dirinya ke tempat-tempat yang tidak pernah ia bayangkan dalam sudut-sudut tergelap pikirannya.

"Begitu banyak tempat yang dulu tersembunyi oleh injeksi kesadaran palsu yang bernama pendidikan formal, kini terbuka, telanjang di depan mata cupet dan picikku. Mataku tampaknya memang harus diganti. Semua cerita yang kau sampaikan, kucari jawaban-jawabannya di perpustakaan dan internet. Semakin tahu aku akan jawaban yang benar, semakin terganggu hidupku, hancurkan siangku dan hantui malamku."

Lisa bercerita dengan detil dan satu persatu cerita yang dulu Julian kisahkan padanya, ia jelaskan dengan lebih dalam, jauh melampaui pemahaman Julian. Ia terkesima, ia terdiam mendengarkan Lisa, terserap oleh kata-kata yang keluar dari mulutnya. Lisa begitu berubah. Tidak ada lagi garis make-up dan pakaian Kosmopolitan dan logat bicara MTV yang mewarnai pertemuan mereka.

"Setiap malam aku arungi sebuah dunia yang monolitik, jalan yang diterangi neon-neon, untuk melupakan hidup tanpa makna. Bunuh, siksa, dan pembudakkan di perkampungan kaum miskin. Di mana-mana perang suku, diabadikan dalam handycam Sony, disiarkan oleh kaum fanatik lewat internet dan dibagikan lewat jaringan distribusi video untuk membakar perang-perang lainnya. Budaya yang menghabisi kata-kata. Impian kuno dan mitos simbolik gerayangi hidup, mengubah wajah tanpa mengubah isi kepala. Dari hamba feodal, menjadi pemboros, memeras habis semua. Benar-benar dunia daya beli yang luar biasa…"

Lisa terus menerus berkata-kata tanpa henti. Mengeluhkan dunia, dengan wajah yang semakin suram. Hancurkan siangnya dan hantui malamnya. Hidup yang sebelumnya dipenuhi keceriaan, keyakinan, dan cinta-kasih, ternyata bermakna hampa. Semua hanya kebohongan, katanya sambil menghisap dalam rokok yang diberikan Julian. Sambil mendengarkan, Julian mulai mengangkat cangkir kopinya, memenuhi janji kepada dirinya sendiri jika ia telah bertemu Lisa, menghirup uap kopi dan menyeruputnya setiap sepuluh menit. Satu, dua, dan tiga seruputan terlewati. Air kopi mulai terasa dingin, tetapi cerita Lisa belum juga berhenti. Tampaknya terlalu banyak rentetan pengalaman hidup yang dia lalui satu tahun ini, tepatnya sejak satu tahun enam bulan lima belas hari yang lalu.

Julian kembali bertanya, "Ada apa kau datang ke kota yang membosankan ini?" Bukan, bukan karena bosan mendengarkan Lisa, tetapi pertanyaan terakhirnya juga belum dijawab Lisa dan itu membuatnya penasaran.

***

Satu tahun enam bulan lima belas hari sebelumnya.

Seorang pelarian, buron dikejar aparat keamanan kotanya, duduk teronggok di dekat sebuah lampu merah di Dago, Bandung. Teronggok, karena lelah setelah menempuh puluhan jam dalam dua kereta api ekonomi dari dua rute yang berbeda dan berlawanan arah, sesuatu yang belum pernah ia lakukan seumur hidupnya. Bahkan ke luar kotanya sendiri ia belum pernah. Pelarian, buron meski bukan seorang kriminal. Lima puluh jam yang lalu, sebuah gerakan gagal. Dua orang kawannya sudah tersungkur ditembus bayonet dan peluru. Lima puluh jam yang lalu, sebuah aksi pendudukan tanah gagal. Massa berlarian menghindari rentetan peluru senapan semi-otomatik, senapan serbu yang harusnya hanya dipakai infantri dalam peperangan melawan infantri lagi. Lima puluh jam lalu, ia lihat dengan mata kepala sendiri satu persatu orang di sekitarnya rubuh setiap ia dengar suara rentetan tembakan. Sial, mereka sangat jitu.

Ia hanya berlari melewati rumah-rumah penduduk bersama para petani yang tersisa. Insting membuatnya mencuri beberapa pakaian di jemuran yang kering, termasuk sebuah jaket hijau tebal. Keluar dari perkampungan itu, ia sudah berganti pakaian dan segera mencegat taksi yang lewat. Sebuah tindakan yang spekulatif memang, bisa saja taksi itu berisi aparat intel yang mengincarnya. Yang kedua, bisa saja ia harus berputar-putar yang cukup jauh, sementara uang dikantungnya hanya lima puluh ribu rupiah saja. Ia tak peduli, pilihan harus ia ambil cepat. Hasilnya, ia akan lihat belakangan.

Ia bukan anak siapa-siapa, bukan bagian dari kelompok yang punya jaringan lobby yang kuat. Tak punya jalur perlindungan, dan bahkan tak punya jalur lari karena semua temannya tertangkap, atau mungkin sudah tewas. Tak bisa kembali ke tempat kosnya untuk meminjam uang, atau hanya mengambil uang receh di celengannya sebagai tambahan ongkos. Tak bisa membawa apapun, kecuali apa yang tidak berganti semenjak keluar dari perkampungan tadi, hanya tubuh dan buku catatan hariannya. Empatpuluh tujuh jam yang lalu, ia sudah menaiki kereta api ekonomi menuju Yogyakarta hanya untuk menunggu kereta api kelas yang sama menuju Bandung.

Lima belas hari enam bulan satu tahun yang lalu, ia duduk teronggok di dekat sebuah perempatan ramai di Dago, dan malam minggu menjelang. Ramai karena malam minggu akan tiba, untuk buat dunia sesak oleh tumpah ruah anak muda di berbagai negeri yang ada di kota itu. Begitu ramai, begitu hingar-bingar. Hanya malam penutup tahun yang akan mengalahkan malam ini. Setiap mobil yang lewat mewakili keramaian. Beberapa mengeluarkan musik dance, jika tidak house music, dengan dentuman bas yang cukup membuat Julian terdorong ke dalam nausea.

Adakah akhir dari sepi dalam ramai ini? Adakah damai untuk sedikit saja dari pikiran dan tubuh yang lelah ini? Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk dalam otaknya, yang ingin memuntahkan dirinya keluar dari mulutnya atas kegilaan ini. Di saat itulah suatu sosok melintas di hadapannya. Sosok bermagnet yang menarik tubuhnya meninggalkan nausea keparat.

Perempuan itu berjalan, dengan bertangkai-tangkai mawar merah di tangan kirinya, dan tangan kanannya memegang satu tangkai mawar, ditawarkan ke setiap mobil baik yang biasa saja ataupun yang berdentam-dentam oleh musik. Malam minggu, sebuah kewajiban aneh setiap manusia modern dalam rutinitas romansa. Mungkin hanya sisa kehewanan dalam manusia, tapi perempuan itu memang menjual mawar merah tampaknya. Sambil tersenyum, terkadang dengan gumaman 'please', menawarkan mawar merah. Terutama kepada para laki-laki muda yang berpakaian necis dalam mobil tanpa pasangan. Mereka yang hendak mengunjungi perempuan yang mereka suka. Senyuman, dari wajah yang sangat tipikal hasil tersukses binaan MTV, menawarkan mawar, satu bagian kebudayaan lama dari negeri penjajah kaukasoid.

Julian memandanginya. Bukan hanya karena wajah MTV itu, yang memang sangat terpaksa menjadi salah satu standar hidupnya. Bukan karena senyumnya, dan gumaman 'please', atau pakaian perempuan itu yang juga paling-paling mewakili kesuksesan Kosmopolitan. Tapi sorot mata muram, bosan di balik semua topeng hasil imperialisme itu.

Entah mengapa, bukan rasionalitas, dan bukan juga birahi, tapi bagian lain dari otaknya membuat tangannya merogoh sakunya. Diraihnya sisa uang yang ia miliki, lima ribu rupiah. Julian bangkit, sambil sesedikit mengusir dingin, dan berjalan menyeberangi lintasan mobil-mobil yang bergerak cepat membuang ketidaksabaran pengemudinya setelah mendapat lampu hijau. Suara klakson, dan caci maki melintasi telinganya. Julian berjalan lurus dan hampiri perempuan penjual mawar itu.

"Saya ingin beli mawar."

"Oo. Satunya lima ribu mas. Untuk siapa, ya?" perempuan itu bertanya, berupaya sedikit menggoda agar dalam keramahan, tanpa benar-benar punya keinginan untuk itu. Hanya senyumnya dan gaya bicaranya, tapi tidak sorot matanya. Ia serahkan mawar dan menerima uang lima ribuan terakhir Julian.

"Untuk kamu…"

Perempuan itu terdiam, raut muka terkejut tak siap jawaban seperti itu.

"Ya, untuk kamu. Untuk penuhi hidupmu dengan keindahan mawar, gantikan kebosanan meski hanya untuk malam ini saja."

Julian tak pernah menyangka ia akan bicara demikian dan menghabiskan uang terakhirnya hanya untuk mawar, yang bisa dimakan pun tidak. Malah ia berikan mawar itu pada si penjual itu. Ia tidak menyesal, tapi berarti tak dapat lagi makan malam ini. Ia tersenyum dan kembali ke tempat ia duduk tadi dengan bodohnya melintasan klakson dan caci maki. Setelah itu, ia kembali teronggok di samping lampu merah.

Perempuan itu menunggu lampu merah menyala dan menyeberangi jalan menuju manusia yang teronggok yang memberinya bunga. Julian hanya menatapnya. Cukup lama, tapi kebosanan sudah hilang dari sorot matanya.

"Namaku Lisa…"

***

Pagi setelah pertanyaan itu Julian terbangun oleh silaunya sinar matahari pagi yang menerobos jendelanya. Entah siapa yang membuka jendela kayu kamar kosnya. Seseorang telah menaruh secangkir kopi berserta sepiring potongan-potongan roti bakar di samping TV-nya. Masih hangat jika melihat alur uap di atas kedua benda itu. Badannya tergerak menghampiri dua kenikmatan pagi itu, hanya wanginya memprovokasi liur Julian.

Sebuah kertas terlipat di bawah cangkir kopi. Sebuah pesan, ditulis dengan coklat yang dari penampakkannya, coklat yang sama yang kini menempel di roti bakar. "Aku pergi… Lisa."

Julian kembali ke kasurnya, untuk kembali teronggok seperti satu tahun enam bulan enam belas hari yang lalu di dekat lampu merah. Tak pernah ia bayangkan satu tahun enam bulan lima belas hari dapat merubah Lisa sejauh ini. Tak pernah ia bayangkan fragmen-fragmen hidup manusia tercatat dalam buku hariannya yang ia bacakan pada Lisa dapat merubah keseluruhan pola pikir Lisa. Memang sorot mata bosan itu kembali, tapi bersama determinasi untuk melawannya. Ia berubah hanya karena pertemuan dan masa bercengkerama yang terlalu singkat. Dan sekarang Lisa telah pergi kembali, tanpa pernah menjawab pertanyaan Julian kenapa ia datang ke Jakarta. Julian hanya bisa tersenyum mentertawakan hidupnya, lalu mulai menyeruput kopinya.

Jakarta, 2 Januari 2003