<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-20029404</id><updated>2011-04-22T00:39:56.378+02:00</updated><title type='text'>Les Histoires Fictives</title><subtitle type='html'>Une fraction des fictives dans mes cerveaux, malhereusement en indonésien...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://theredinparis.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20029404/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theredinparis.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>C.Y.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09796239992249933339</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20029404.post-177408896656916601</id><published>2004-04-14T05:42:00.001+02:00</published><updated>2008-03-30T20:58:05.728+02:00</updated><title type='text'>Dua Jumat dan Seorang Arrisa</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;Sebuah Jumat sore yang lain di Jakarta. Yang membedakan hanyalah halte-halte busway, yang berjejer secara ajaib setiap ratusan meter di tengah-tengah dua jalur yang semestinya tersibuk namun kosong. Di jalur lambat antrian bus reguler menyesaki, berebut penumpang. Perbuatan sia-sia didorong ketidakpastian dan keterpaksaan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;Buat mereka yang berkerumun di halte-halte, para pekerja yang menghabiskan siang mereka di gedung-gedung angkuh simbol kejayaan palsu masa silam, juga sebuah Jumat sore yang lain. Wajah dan mata yang redup kelelahan, menanti sesak berikutnya dalam bus-bus kota. Pandangan mereka begitu terpakunya pada arah di mana bus-bus itu datang, seperti layaknya menanti berkah-berkah dari surga yang dijanjikan nabi-nabi yang baru saja mereka imani sore sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;Sepintas saja mereka terkadang melihat ke arah lain, kalau-kalau ada pengalih perhatian yang menarik untuk dilihat sesaat. Tapi selamat datang dalam dunia para kenalan, di mana pertemanan semakin melenyap ditelan keterasingan, disesaki paranoia dan dikungkung penjara rutinitas. Sebuah gudang besar apatisme bercandukan kekasih, agama, hura-hura, dan media massa.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;Tidak, mereka yang menunggu di depan Plaza Danamon, di sisi kiri fly-over Karet Kuningan, tidak ada yang melihat dari mana laki-laki bersuram durja itu datang. Andai ia orang cacat atau segerombolan pengamen dan pengemis yang datang mencari makan di bus-bus kota, tentu ada seorang di antara mereka yang melihatnya. Tidak seorang pun yang ingat kapan ia datang, apalagi benar-benar mengetahui bagaimana ia bisa tiba-tiba teronggok di sana sekarang. Tak seorang pun yang mengenalnya, itu pasti. Selamat datang dalam dunia para kenalan! Dan juga pasti karena penampilan dan wajahnya juga begitu mudah terlupakan. Wajah yang terkesan tua, lusuh untuk tubuh mudanya. Sulit benar untuk tertarik mengingatnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;Ia begitu ringkih, di balik kesuraman dan kelusuhannya. Seperti seorang anak yang mati ketakutan ketika melihat matahari dan angkasa. Mungkin satu saat ia pernah mencoba mencicipi keduanya di saat terlihat mudah, namun terbangnya terlalu tinggi dan akhirnya tersungkur mati seperti Ikarus anak Daedalus.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;Dibelinya sebotol teh tapi ia tak membukanya, tak meminumnya. Hanya memakainya untuk mengompres lebam yang memberi biru pada pipinya. Seraya memainkan botol dingin di pipinya, mata sayunya sesekali jalang ke sekitar, meski tanpa membuka kelopak lebih besar.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;Sesekali ia bergumam-gumam, mungkin bersenandung sebuah lagu kenangan lama. Mungkin sedikit saja menghidupkan kembali beberapa kilasan film tua hitam putih atau foto-foto sepia di kepalanya untuk memperjelas kesedihan di wajahnya. Tidak, ia tidak bermaksud mengumpulkan belas kasih seraya kemudian menyorongkan tangan kanannya dan berharap beberapa keping ratusan, dua ratusan, atau lima ratusan jatuh ke sana.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;Mulutnya tetap berkomat-kamit, dan nyanyinya semakin terdengar orang-orang. “Kucoba-coba melempar gadis, gadis kulempar mangga kudapat. Hehe. Kucoba-coba melamar janda, janda kulamar dilempar manggis kudapat.” Sesekali kekehnya membuat khawatir orang-orang sekitarnya, terutama si pedagang minuman ringan di sampingnya yang agak was-was jika si aneh itu tiba-tiba mengamuk dan meludaskan kelontongan kecilnya. Lagu-lagu plesetan itu saja sudah cukup ‘kruk!’[1], meminjam istilah mahasiwa yang sering nangkring di depan kelontongan kecilnya. Apalagi, si pedagang juga harus terusik nada-nada yang keluar dari mulut si aneh. Cukup mengganggu di antara deru bus kota, bisingnya sepeda motor, dan klakson tak sabar taksi dan kendaraan pribadi yang melintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;Jumat yang sama, di pagi hari, di sudut lain kota Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;Arrisa beringsut bangun dari ranjangnya. Kelopak matanya masih terlalu enggan untuk membiarkan cahaya  pagi masuk melalui pupil dan menghujam retinanya. Mulutnya masih terasa masam, dipipinya selapis tipis sisa air liur yang mengering, tidak jatuh lalu terserap kain sarung bantal ataupun membentuk gambar-gambar kepulauan di seprai ranjangnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;“Huahhhmmmmmm.” Tangannya meregang sejauh-jauhnya, seperti orang bangun tidur yang begitu mengikuti naskah film atau iklan di televisi. Ia merengkuh guling yang ada di sampingnya. Rasanya baru kemarin ia tidur dipeluk oleh laki-laki yang ia kenal jumat sebelumnya. Ia berbeda, ia selalu bicara dan tak pernah bisa ditebak apakah ia akan meniduri Arrisa atau tidak. Tak seperti yang lain, ia hanya senang bercerita.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;Arrisa menguap untuk kedua kalinya, kemudian pandangannya menyapu isi kamarnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar yang ditinggalinya masih berantakan dengan buku-buku fotokopian dan kertas-kertas berisi tulisan-tulisan yang di-print, hasil download dari situs-situs internet. Sesekali Arrisa melirik tumpukan beban hidupnya itu, tak ada niatan untuk merapikannya. Toh tubuhnya saja tak mau bergerak meninggalkan ranjangnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;Ia kembali menerawang, menatap langit-langit yang kini telah dipenuhi berbagai macam coretan tangannya. Entah dengan spidol, kapur berwarna-warni, cat semprot, sampai dengan lipstik dan coklat batangan. Menurutnya, itu lebih baik dari pada hanya menjadi kamar yang rapi, diterangi neon yang hanya memberi cahaya putih sepi pada semua barang-barang tertata, serapi fasisme Hitler.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;Kemarin, di saat ia sedang di ruang makan menyantap rantangan malam sementara penghuni kos yang lain asyik menatap lomba menyanyi di televisi, sebuah acara yang sedang digemari secara luas. Teman dari sebelah kamarnya berkata, “Kok sepertinya kamu agak berubah belakangan ini… Biasanya kamu langsung ‘ho-oh’ kalau diajak main keluar malam-malam, sekarang kamu hanya bilang ‘iya’ tapi balik lagi ke tumpukkan buku dan kertasmu itu.”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;Yang lain berkomentar, “Udahlah Ev, si Risa lagi mikirin negara tuh… Percuma lo komentarin gitu, nggak ngaruh.” Ada lagi yang menyahut, “Alah, paling-paling gara-gara cowok yang dia bawa masuk minggu kemarin!” ‘Pemirsa’ acara perlombaan bernyanyi televisi yang lain segera menanggapi celetukan itu dengan cekikikan, satu dua di antara mereka mengerling nakal ke arah Arrisa, bergumam jahil: “Good girl.”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;Arrisa cuma terkekeh. Meski ia sebenarnya mentertawakan ketololan mereka yang menontong acara dungu lomba nyanyi tersebut. Bayangkan saja, mereka seperti terbuai dengan acara tersebut, seolah mereka ikut dalam kompetisi di dalamnya. Keingintahuan mereka juga begitu dalam atas pendunguan itu, sampai-sampai mereka ikuti empat (bayangkan: empat!) acara lainnya yang berkaitan dengan acara dungu itu. Mereka ikuti bagaimana kehidupan para kontestan yang diisolir layaknya para gladiator jaman Romawi untuk berlatih bertarung, hanya bedanya mereka bernyanyi. Juga mereka ikuti segala kasus cinta lokasi atau kisah-kisah dalam masa isolasi tersebut. Dan seterusnya, dan seterusnya. Arrisa kadang-kadang berkhayal, bagusnya para calon penyanyi itu masing-masing diberi saja pedang dan perisai… Tapi, baru dua minggu sebelumnya, ia juga adalah salah satu penggemar pendunguan itu.&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebenarnya aku masih ingin tinggal,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;bercerita semua yang telah kuingat dan kulihat.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;hindari hempasan sepi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;yang membuat otakku menjadi serpih-serpih.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;lari dari kehendak waktu yang memburuku,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;bersembunyi sesaat saja&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;untuk menempa remah-remah nyaliku.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;Tapi aku harus pergi, entah kenapa…&lt;br /&gt;--&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;+ Tidak, kita tidak akan pernah bicara tentang cinta.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;- Kenapa? Apa kamu takut? Sudah hampir dua jumat kita bertemu. Kita punya banyak kesamaan! Kenapa tidak? Semua juga telah kuceritakan padamu, dan kamu juga sudah bercerita banyak. Kenapa?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;+ Tidak akan, karena memang tidak bisa dan tidak perlu. Lihat, apakah yang telah kuceritakan adalah tentang diriku? Cinta? Kita tidak butuh kata terkutuk itu lagi, kita hanya ingin mabuk kepayangnya saja… Semuanya terlalu pendek, terlalu singkat, dan bisa berakhir kapanpun.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;Keway tak pernah bercerita tentang dirinya secara serius. Selalu dalam potongan, selalu dalam serpihan. Ia malah bicara soal serunya bermain Time Crisis, yang sebenarnya Arrisa lebih terampil memainkannya. Di waktu yang lain, ia bicara soal nama-nama kapal induk Amerika Serikat dan dua orang tolol yang diabadikan menjadi nama kapal induk terbaru AS: Ronald Reagan dan George Bush. “Hidup Partai Republik! Long live the bigots!” Tapi begitu sedikit yang terungkap tentang dirinya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;- OK, kalau begitu. Kita bisa mulai sekarang. Aku mau kamu cerita, tentang dirimu. Apa susahnya sih?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;+ Kamu tak kunjung juga mengerti… Aku tak bercerita tentang itu karena memang tidak ada yang bisa kuceritakan. Aku adalah Nemo: no one, no nothing! Sebenar apapun apa yang telah kuceritakan, kalau kamu melihatku, pasti kamu akan bilang itu omong kosong, rubbish, kalau aku boleh gunakan sedikit keinggrisan orang-orang seperti kamu. Kita terbiasa melihat kebenaran darimana ia berasal, siapa yang bicara, bukan nilainya itu sendiri. Kalau ada maling yang mengakui perbuatannya, kepala kita malah meragukan perkataannya. “Mana ada maling ngaku!”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;- Kok jadi rumit begini sih… Dengar, aku cuma mau dengar cerita tentang kamu, itu saja…&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;Keway terdiam sesaat. Arrisa meminta satu hal yang tak bisa ia penuhi, karena ia tidak lagi mengerti tentang dirinya, tak lagi mengerti televisinya, tak lagi mengerti makanannya, tak lagi mengerti pakaiannya…&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;+ Aku memang tidak tahu lagi tentang diriku, tidak lagi penting. Kurasa tak kuperlukan, ketika memang mudah menghirup udara daripada mengerti hidup. Sudahlah, jangan kita bahas lagi. Besok aku pergi.&lt;br /&gt;--&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;Keway meninggalkan sebuah tas di kamar Arrisa. Mungkin ia lupa, atau sebatas menitipkannya untuk sementara waktu. Atau mungkin ia masih punya rencana untuk tinggal di kamar itu. Arrisa tak ingin menebaknya dan meski tergoda untuk membukanya, ia mencoba membiarkan tas tersebut tenang pada tempat dan kondisinya sekarang.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;Berjam-jam ia pandangi tas itu. Gambaran Keway melintasi kepalanya, begitu akrab sekaligus asing. Ketika ia menoleh ke jendela kamarnya, yang ia lihat malah kilasan adegan pertemuannya dengan Keway, laki-laki yang duduk bersila di jalur menuju busway, bukan mengemis, mengamen, ataupun berdagang. Hanya duduk bersila saja di sana, selayak seorang yang sedang bermeditasi. Ketika ia melihat lagi ke tas tersebut, adegan yang lain muncul tetapi tokohnya tetap saja Keway, seseorang yang sebenarnya tak begitu dikenalnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ia tak bisa menahan dirinya lagi. Ia bangkit, bergerak dengan dua langkah menuju tas yang menggodanya sejak berjam-jam lalu. Kita tidak butuh kata terkutuk itu lagi… Ia sentak tas tersebut, ia buka dan intip isinya. Buku dan kertas-kertas print-out. Hanya itu saja. Ia berharap semua yang ada dalam tas itu bisa menjelaskan lebih banyak tentang Keway. Ia keluarkan semua, buku, kertas, makalah selayak penjinak bom mencari dinamit yang akan meledak beberapa saat lagi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;Ia ambil satu makalah yang agak kumal, dan mulai membacanya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada demokrasi di Indonesia…”&lt;br /&gt;--&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;Keway masih duduk di samping pedagang minuman ringan. Botol minuman dingin yang ia gunakan untuk mengompres lebam di pipinya sudah tak lagi dingin. Tapi raut wajah pedagangnya masih tetap sama, was-was dan kakinya seperti siap melompat lari. Ia hentikan lagu-lagu tololnya. Sudah dua jumat terlewati, saatnya berjalan. Sudah terlalu lama berhenti…&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;Jakarta 14 April 2004&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:monospace;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Istilah yang dikembangkan di beberapa kalangan muda Jakarta, dikembangkan dari istilah ‘garing’ (kering) dan bunyi ketika kerupuk dikunyah pertama kali. Kurang lebih artinya, humor yang tidak lucu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20029404-177408896656916601?l=theredinparis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theredinparis.blogspot.com/feeds/177408896656916601/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20029404&amp;postID=177408896656916601' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20029404/posts/default/177408896656916601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20029404/posts/default/177408896656916601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theredinparis.blogspot.com/2007/05/dua-jumat-dan-seorang-arrisa-sebuah_10.html' title='Dua Jumat dan Seorang Arrisa'/><author><name>C.Y.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09796239992249933339</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20029404.post-114469549557698269</id><published>2003-01-02T20:58:00.000+01:00</published><updated>2007-05-12T17:36:30.316+02:00</updated><title type='text'>Penantian Panjang Bernama Lisa</title><content type='html'>&lt;div xmlns="http://www.w3.org/1999/xhtml"&gt;untuk s.a.s&lt;br/&gt;Oleh Julian Verne&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Julian duduk di hadapan sebuah lemari buku dalam kamarnya yang sekaligus menjadi keseluruhan rumahnya. Jendela-jendela ia biarkan terbuka hanya untuk mendengarkan gemericik hujan yang satu jam lalu datang mengganggu rencana sorenya. Satu jam seolah dunianya berhenti.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sore sehabis hujan, dan bau tanah dibasahi air hujan merambati sel-sel syarafnya. Musim hujan di bulan yang selalu mengulang, Desember. Selalu mengulang, seperti sebuah siklus hidup. Baru kali ini ia sadari bahwa jiwanyapun, seperti mamalia lainnya, ternyata belum bisa sepenuhnya lepas dari pengaruh alam. Ketidakpastian datang kembali, datang berselimutkan kebosanan dan sepi, runtuhkan sebuah semangat diri yang ia bangun dan yakini.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Televisi di sampingnya terus menyala sejak pagi tadi, temani dirinya menyiapkan diri untuk sebuah perjumpaan yang ia nantikan sejak ia tiba di Jakarta. Julian memiliki sebuah rencana, yang terbaik yang pernah ia reka-reka dalam pikirannya. Hari ini aku akan bekerja giat, hari ini aku akan mulai olah raga, hari ini aku akan kembali menghirup udara sore sehabis hujan, hari ini aku akan mulai menghirup uap kopi sebelum menyeruputnya setiap sepuluh menit, dan sejuta keinginan yang aku inginkan setelah aku bertemu dengan dia.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Televisi tetap menyala, speakernya mengalunkan lagu dalam video klip yang cukup tolol, entah sutradara dungu mana yang membuatnya. Tak ada pilihan, ia butuh sesuatu untuk menemaninya dan radio-tapenya masih diperbaiki kawan lamanya. Ketololan televisi tetap mengalir, temani aliran lamunan Julian yang kini terhenti karena hujan reda. Terlambat 45 menit karena hujan. Ia berpikir sebentar, dan mengambil segegenggam koin seratus rupiah dan bergegas menuju telepon koin yang menempel di ruang makan di lantai bawah.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;***&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;"Halo? Kamar 516."&lt;br/&gt;"Baik, pak."&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Satu menit berlalu diiringi lagi 'Ode To Joy' Bethoven. Entah mengapa, sekali lagi ia berpikir semua lingkup budaya di sekitarnya telah dihempaskan menjadi ketololan, seperti video klip dan iklan tolol yang mengirinya sepanjang sore tadi.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;'Ode To Joy' terhenti digantikan oleh keheningan panjang.&lt;br/&gt;"Maaf, pak. Kamar 516 sedang pergi tampaknya."&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hotel murah! Menyebut nama penghuninya pun tidak. Tapi itu bagusnya, anonimitas. Ia ingat hotel itu. Berbentuk seperti gedung perkantoran sepuluh lantai, dengan puluhan kamar berharga miring di tengah kota. Tak heran jika menjadi tempat transaksi prostitusi.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tanpa terasa kepalanya menyentuh baja dingin cangkang telepon koin itu. Dia tidak ada, kemana? Pergi, untuk biarkan malam sepi kembali hantui dirinya. Lalu dengan gontai melangkah kembali ke kamarnya. Tempat tidur menjadi tujuannya, rebahkan diri dan kembali ditemani televisi tolol itu. Mungkin menanti hujan yang sirami sepi malam, gantikan dengan gemericiknya. Sepi, suntuk, bosan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Malam ini seharusnya menyenangkan. Cerita-cerita masa lalu akan ditumpahkan untuk warnai makan malam bersama. Canda dan tawa seharusnya, semestinya menutupi segenap penghitungan waktu dalam kepala, untuk biarkan detik, menit, dan jam berlalu dalam rezim keceriaan. Gairah mengisi dua kepala yang berbeda untuk bangkitkan malam ini bergerak, sampai beringsut menjemput pagi. Tapi ini, kembali terlalu berharap.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Acara televisi, kini berganti diisi oleh DRTV. Beragam peralatan olah raga, pil awet muda, obat pemutih kulit, mungkin tahun depan mereka bisa saja menjual kondom 'glow in the dark'. Sangat cocok untuk pasangan yang suka gelap-gelapan dan berinsting lemah. Mungkin saja dengan catchwords: "Dengan Rp 99999, Langsung Masuk Di Sasaran." Ha! Mungkin dia akan suka terbahak-bahak melihat iklan itu, dan bosannya sedikit berkurang.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tapi untuk malam ini, ia kembali televisi tolol menghantarkan bosan ke dalam kepalanya, dengan segala pertunjukkan tolol lewat tengah malam untuk melelapkan tidurnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;***&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pagi yang luar biasa dingin. Ia sudah terbangun satu jam sebelum matahari terbit. Sudah ia panjat rumah kosnya itu, menuju atap dan duduk di sana mengenakan kaca mata hitam menanti mentari terbit. Jangan tanya kenapa ia lakukan itu, toh ia sendiri masih enggan untuk memikirkan alasannya ketika kakinya memijak genting pertama di atap. Angin semilir karena rumah kosnya berada di antara dua rumah yang lebih tinggi.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Mentari ternyata tidak muncul seperti yang ia harapkan. Segumpal awan di horizon timur sangat tepat menutupi jalur terbit matahari. Sudahlah, pikirnya dalam hati. Bukan ini mungkin hari baiknya. Dan sambil menggerutu ia beringsut menuruni atap. Tangannya bergetar, dan lututnya sulit mengarahkan telapak kakinya ke pijakan-pijakan yang ada. Ia baru sadar, ia takut ketinggian. Sial.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Upaya menghindari siaran televisi pagi yang tolol ternyata hanya membawa kesusahan baru saja. Peluh dingin dari phobia yang ia miliki sudah membasahi sekujur tubuhnya ketika dengan penuh kelegaan kakinya menapak tanah kembali. Akhirnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;"Jul?"&lt;br/&gt;Ia menoleh, mendapatkan pemandangan yang ia nantikan jauh sebelum kemarin sore.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;"Lisa? Kapan datang?" Lalu mereka berpelukan, dan gejolak yang mereka pendam membawa bibir mereka bertemu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;"Ayo, masuk ke kamarku saja. Mau minum apa? Sudah sarapan? Sampai kapan kau di sini…" Julian meracau seperti nenek cerewet yang bertemu dengan cucu kesayangannya, pertanyaan-pertanyaan terlontar seperti dihamburkan senapan mesin. Mulutnya tak henti-henti melontarkan pertanyaan, baik yang bodoh ataupun tidak. Bahkan banyak yang tidak nyambung, tidak perlu, hanya untuk iringi gerak tubuhnya menyiapkan teh manis, mondar-mandir mencari asbak, dan mengambil persediaan biskuit di balik tumpukkan baju-bajunya. Ia sengaja siapkan biskuit itu hanya untuk Lisa. Sementara perempuan itu hanya duduk, diam tak sekalipun menjawab pertanyaan Julian, hanya tersenyum melihat Julian, memperhatikannya yang sedang menunjukkan betapa ia memiliki perhatian, atau sesuatu yang istimewa, untuk Lisa.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ketika Julian merasa kamarnya masih kurang bersih dan ingin mengambil sapu, ia terhenti, tersadar bahwa sudah kehabisan pertanyaan. Dan dari semua pertanyaan yang ia lontarkan tak sedikitpun yang sudah terjawab. Ia menoleh ke Lisa, yang hanya tersenyum memperhatikan gerak tubuh Julian yang salah tingkah. Julian terdiam dan pandangan mata mereka bertemu. Sudah terlalu lama tidak ada perempuan yang bisa membuatnya demikian. Seperti anak kecil saja, atau mungkin lebih tepat, cukup orang aneh saja. Lalu ia turunkan badannya dan duduk, menuang teh ke dalam dua buah cangkir, sambil menawarkan rokok kepada Lisa.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Setelah lima belas menit penuh kecanggungan Julian, Lisa mulai berbicara. Dan perbincanganpun yang mereka nantikan dimulai.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;***&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Mereka telah bertukar cerita selama dua jam, saling bercanda dan terkadang saling bercumbu meski masing-masing masih kembali menahan diri. Terlalu lama mereka terpisahkan jarak, dan hubungan yang mereka alami, saat pertama dan terakhir sebelum ini, terlalu singkat. Dua hari, tanpa sedikitpun pernah saling mengenal. Tanpa pernah terjadi pertukaran pikiran. Tanpa kemudian pernah ada ikatan yang terucap ataupun tertulis. Semua terjadi begitu saja, dan keduanya hanya menikmati apa yang terjadi.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hanya saja, tiba-tiba Lisa terdiam sesaat, ketika Julian bertanya apa sebenarnya yang membawanya ke kota ini. Sorot matanya tiba-tiba berubah, dari ceria menjadi dingin. Tangannya mengangkat gelas dan dipandanginya gelas tersebut dalam-dalam. Julian juga terdiam. Pertanyaan ini memang terlontar begitu saja, dan tak pernah ia nyatakan sebelumnya, dan memang Julian terlalu gembira dengan kedatangan Lisa sehingga tidak menanyakan kenapa Lisa datang.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;"Awalnya adalah sebuah pertanyaan tentang makna hidup," Lisa membuka penjelasannya. "Satu tahun setelah pertemuan kita yang pertama itu, Jul, arungan hidup berubah. Begitu suram, sedih, dan gelap, hanya karena pertanyaan yang mengganggu itu. Bukan karena kau memang, toh seharusnya kita tahu bahwa pertemuan itu tak harus bermakna apa-apa. Tapi obrolan kita tentang dunia, tentang perang, tentang kelaparan, tentang segala yang kau pernah kau tulis dalam catatan arungan duniamu, sangat menggangguku. Aku heran ketika saat ini kulihat dirimu seperti tidak pernah terganggu atas semua itu."&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;"Aku terganggu," jawab Julian pelan. "Tapi kunikmati saja ketergangguanku. Hanya lanjutkan dan nikmati hidup."&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Lisa melanjutkan penjelasannya dengan menguraikan satu persatu pengalaman-pengalamannya selama satu tahun. Jangan tanya detik, menit, dan jam yang telah ia lalui. Hari, minggu, bulan, dan tahun melintasi hidupnya tanpa pernah sesuai dengan yang dulu ia pikirkan dalam masa kecilnya. Tidak, bukan kesengsaraan. Bukan juga, kebahagian seterusnya seumur hidupnya. Dia lebih banyak berbicara soal waktu yang bermakna sesuai dengan keinginannya, soal gerak hidup yang telah membawa, menyeret, dan menghempaskan dirinya ke tempat-tempat yang tidak pernah ia bayangkan dalam sudut-sudut tergelap pikirannya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;"Begitu banyak tempat yang dulu tersembunyi oleh injeksi kesadaran palsu yang bernama pendidikan formal, kini terbuka, telanjang di depan mata cupet dan picikku. Mataku tampaknya memang harus diganti. Semua cerita yang kau sampaikan, kucari jawaban-jawabannya di perpustakaan dan internet. Semakin tahu aku akan jawaban yang benar, semakin terganggu hidupku, hancurkan siangku dan hantui malamku."&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Lisa bercerita dengan detil dan satu persatu cerita yang dulu Julian kisahkan padanya, ia jelaskan dengan lebih dalam, jauh melampaui pemahaman Julian. Ia terkesima, ia terdiam mendengarkan Lisa, terserap oleh kata-kata yang keluar dari mulutnya. Lisa begitu berubah. Tidak ada lagi garis make-up dan pakaian Kosmopolitan dan logat bicara MTV yang mewarnai pertemuan mereka.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;"Setiap malam aku arungi sebuah dunia yang monolitik, jalan yang diterangi neon-neon, untuk melupakan hidup tanpa makna. Bunuh, siksa, dan pembudakkan di perkampungan kaum miskin. Di mana-mana perang suku, diabadikan dalam handycam Sony, disiarkan oleh kaum fanatik lewat internet dan dibagikan lewat jaringan distribusi video untuk membakar perang-perang lainnya. Budaya yang menghabisi kata-kata. Impian kuno dan mitos simbolik gerayangi hidup, mengubah wajah tanpa mengubah isi kepala. Dari hamba feodal, menjadi pemboros, memeras habis semua. Benar-benar dunia daya beli yang luar biasa…"&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Lisa terus menerus berkata-kata tanpa henti. Mengeluhkan dunia, dengan wajah yang semakin suram. Hancurkan siangnya dan hantui malamnya. Hidup yang sebelumnya dipenuhi keceriaan, keyakinan, dan cinta-kasih, ternyata bermakna hampa. Semua hanya kebohongan, katanya sambil menghisap dalam rokok yang diberikan Julian. Sambil mendengarkan, Julian mulai mengangkat cangkir kopinya, memenuhi janji kepada dirinya sendiri jika ia telah bertemu Lisa, menghirup uap kopi dan menyeruputnya setiap sepuluh menit. Satu, dua, dan tiga seruputan terlewati. Air kopi mulai terasa dingin, tetapi cerita Lisa belum juga berhenti. Tampaknya terlalu banyak rentetan pengalaman hidup yang dia lalui satu tahun ini, tepatnya sejak satu tahun enam bulan lima belas hari yang lalu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Julian kembali bertanya, "Ada apa kau datang ke kota yang membosankan ini?" Bukan, bukan karena bosan mendengarkan Lisa, tetapi pertanyaan terakhirnya juga belum dijawab Lisa dan itu membuatnya penasaran.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;***&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Satu tahun enam bulan lima belas hari sebelumnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Seorang pelarian, buron dikejar aparat keamanan kotanya, duduk teronggok di dekat sebuah lampu merah di Dago, Bandung. Teronggok, karena lelah setelah menempuh puluhan jam dalam dua kereta api ekonomi dari dua rute yang berbeda dan berlawanan arah, sesuatu yang belum pernah ia lakukan seumur hidupnya. Bahkan ke luar kotanya sendiri ia belum pernah. Pelarian, buron meski bukan seorang kriminal. Lima puluh jam yang lalu, sebuah gerakan gagal. Dua orang kawannya sudah tersungkur ditembus bayonet dan peluru. Lima puluh jam yang lalu, sebuah aksi pendudukan tanah gagal. Massa berlarian menghindari rentetan peluru senapan semi-otomatik, senapan serbu yang harusnya hanya dipakai infantri dalam peperangan melawan infantri lagi. Lima puluh jam lalu, ia lihat dengan mata kepala sendiri satu persatu orang di sekitarnya rubuh setiap ia dengar suara rentetan tembakan. Sial, mereka sangat jitu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ia hanya berlari melewati rumah-rumah penduduk bersama para petani yang tersisa. Insting membuatnya mencuri beberapa pakaian di jemuran yang kering, termasuk sebuah jaket hijau tebal. Keluar dari perkampungan itu, ia sudah berganti pakaian dan segera mencegat taksi yang lewat. Sebuah tindakan yang spekulatif memang, bisa saja taksi itu berisi aparat intel yang mengincarnya. Yang kedua, bisa saja ia harus berputar-putar yang cukup jauh, sementara uang dikantungnya hanya lima puluh ribu rupiah saja. Ia tak peduli, pilihan harus ia ambil cepat. Hasilnya, ia akan lihat belakangan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ia bukan anak siapa-siapa, bukan bagian dari kelompok yang punya jaringan lobby yang kuat. Tak punya jalur perlindungan, dan bahkan tak punya jalur lari karena semua temannya tertangkap, atau mungkin sudah tewas. Tak bisa kembali ke tempat kosnya untuk meminjam uang, atau hanya mengambil uang receh di celengannya sebagai tambahan ongkos. Tak bisa membawa apapun, kecuali apa yang tidak berganti semenjak keluar dari perkampungan tadi, hanya tubuh dan buku catatan hariannya. Empatpuluh tujuh jam yang lalu, ia sudah menaiki kereta api ekonomi menuju Yogyakarta hanya untuk menunggu kereta api kelas yang sama menuju Bandung.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Lima belas hari enam bulan satu tahun yang lalu, ia duduk teronggok di dekat sebuah perempatan ramai di Dago, dan malam minggu menjelang. Ramai karena malam minggu akan tiba, untuk buat dunia sesak oleh tumpah ruah anak muda di berbagai negeri yang ada di kota itu. Begitu ramai, begitu hingar-bingar. Hanya malam penutup tahun yang akan mengalahkan malam ini. Setiap mobil yang lewat mewakili keramaian. Beberapa mengeluarkan musik dance, jika tidak house music, dengan dentuman bas yang cukup membuat Julian terdorong ke dalam nausea.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Adakah akhir dari sepi dalam ramai ini? Adakah damai untuk sedikit saja dari pikiran dan tubuh yang lelah ini? Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk dalam otaknya, yang ingin memuntahkan dirinya keluar dari mulutnya atas kegilaan ini. Di saat itulah suatu sosok melintas di hadapannya. Sosok bermagnet yang menarik tubuhnya meninggalkan nausea keparat.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Perempuan itu berjalan, dengan bertangkai-tangkai mawar merah di tangan kirinya, dan tangan kanannya memegang satu tangkai mawar, ditawarkan ke setiap mobil baik yang biasa saja ataupun yang berdentam-dentam oleh musik. Malam minggu, sebuah kewajiban aneh setiap manusia modern dalam rutinitas romansa. Mungkin hanya sisa kehewanan dalam manusia, tapi perempuan itu memang menjual mawar merah tampaknya. Sambil tersenyum, terkadang dengan gumaman 'please', menawarkan mawar merah. Terutama kepada para laki-laki muda yang berpakaian necis dalam mobil tanpa pasangan. Mereka yang hendak mengunjungi perempuan yang mereka suka. Senyuman, dari wajah yang sangat tipikal hasil tersukses binaan MTV, menawarkan mawar, satu bagian kebudayaan lama dari negeri penjajah kaukasoid.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Julian memandanginya. Bukan hanya karena wajah MTV itu, yang memang sangat terpaksa menjadi salah satu standar hidupnya. Bukan karena senyumnya, dan gumaman 'please', atau pakaian perempuan itu yang juga paling-paling mewakili kesuksesan Kosmopolitan. Tapi sorot mata muram, bosan di balik semua topeng hasil imperialisme itu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Entah mengapa, bukan rasionalitas, dan bukan juga birahi, tapi bagian lain dari otaknya membuat tangannya merogoh sakunya. Diraihnya sisa uang yang ia miliki, lima ribu rupiah. Julian bangkit, sambil sesedikit mengusir dingin, dan berjalan menyeberangi lintasan mobil-mobil yang bergerak cepat membuang ketidaksabaran pengemudinya setelah mendapat lampu hijau. Suara klakson, dan caci maki melintasi telinganya. Julian berjalan lurus dan hampiri perempuan penjual mawar itu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;"Saya ingin beli mawar."&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;"Oo. Satunya lima ribu mas. Untuk siapa, ya?" perempuan itu bertanya, berupaya sedikit menggoda agar dalam keramahan, tanpa benar-benar punya keinginan untuk itu. Hanya senyumnya dan gaya bicaranya, tapi tidak sorot matanya. Ia serahkan mawar dan menerima uang lima ribuan terakhir Julian.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;"Untuk kamu…"&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Perempuan itu terdiam, raut muka terkejut tak siap jawaban seperti itu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;"Ya, untuk kamu. Untuk penuhi hidupmu dengan keindahan mawar, gantikan kebosanan meski hanya untuk malam ini saja."&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Julian tak pernah menyangka ia akan bicara demikian dan menghabiskan uang terakhirnya hanya untuk mawar, yang bisa dimakan pun tidak. Malah ia berikan mawar itu pada si penjual itu. Ia tidak menyesal, tapi berarti tak dapat lagi makan malam ini. Ia tersenyum dan kembali ke tempat ia duduk tadi dengan bodohnya melintasan klakson dan caci maki. Setelah itu, ia kembali teronggok di samping lampu merah.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Perempuan itu menunggu lampu merah menyala dan menyeberangi jalan menuju manusia yang teronggok yang memberinya bunga. Julian hanya menatapnya. Cukup lama, tapi kebosanan sudah hilang dari sorot matanya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;"Namaku Lisa…"&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;***&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pagi setelah pertanyaan itu Julian terbangun oleh silaunya sinar matahari pagi yang menerobos jendelanya. Entah siapa yang membuka jendela kayu kamar kosnya. Seseorang telah menaruh secangkir kopi berserta sepiring potongan-potongan roti bakar di samping TV-nya. Masih hangat jika melihat alur uap di atas kedua benda itu. Badannya tergerak menghampiri dua kenikmatan pagi itu, hanya wanginya memprovokasi liur Julian.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sebuah kertas terlipat di bawah cangkir kopi. Sebuah pesan, ditulis dengan coklat yang dari penampakkannya, coklat yang sama yang kini menempel di roti bakar. "Aku pergi… Lisa."&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Julian kembali ke kasurnya, untuk kembali teronggok seperti satu tahun enam bulan enam belas hari yang lalu di dekat lampu merah. Tak pernah ia bayangkan satu tahun enam bulan lima belas hari dapat merubah Lisa sejauh ini. Tak pernah ia bayangkan fragmen-fragmen hidup manusia tercatat dalam buku hariannya yang ia bacakan pada Lisa dapat merubah keseluruhan pola pikir Lisa. Memang sorot mata bosan itu kembali, tapi bersama determinasi untuk melawannya. Ia berubah hanya karena pertemuan dan masa bercengkerama yang terlalu singkat. Dan sekarang Lisa telah pergi kembali, tanpa pernah menjawab pertanyaan Julian kenapa ia datang ke Jakarta. Julian hanya bisa tersenyum mentertawakan hidupnya, lalu mulai menyeruput kopinya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jakarta, 2 Januari 2003&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20029404-114469549557698269?l=theredinparis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theredinparis.blogspot.com/feeds/114469549557698269/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20029404&amp;postID=114469549557698269' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20029404/posts/default/114469549557698269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20029404/posts/default/114469549557698269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theredinparis.blogspot.com/2006/04/penantian-panjang-bernama-lisa_10.html' title='Penantian Panjang Bernama Lisa'/><author><name>C.Y.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09796239992249933339</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20029404.post-114472347501149124</id><published>2002-06-16T04:44:00.000+02:00</published><updated>2007-05-12T17:43:01.398+02:00</updated><title type='text'>Aqualung, Si Kakek Tua Taman Kota</title><content type='html'>&lt;div xmlns="http://www.w3.org/1999/xhtml"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div xmlns="http://www.w3.org/1999/xhtml"&gt; Julian Verne&lt;br /&gt;(theredinparis.blogspot.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kakek tua duduk di kursi taman kota. Lusuh, dia hanya termenung. Di sepanjang garis pandang matanya, anak-anak perempuan berlarian. Sebagian bermain lompat tali. Sesekali terbesit pikiran kotor di kepala kakek itu ketika sesekali juga rok anak-anak perempuan itu tersingkap karena melompat-lompat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore memang menjelang, anak-anak perempuan itu semakin ceria. Menyanyikan lagu-lagu tolol yang entah siapa yang menciptakannya. Tali berayun semakin kencang membentuk satu loop helix berulang-ulang dan semakin kencang teriakan mereka. Tak ada yang baru, pikir kakek itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula, hidup semacam inilah yang ia kenal selama sepuluh, duapuluh tahun, atau berapa puluh tahun pun, ia pun tak ingat lagi.&lt;br /&gt;Sore sebentar lagi pergi meninggalkan taman kota, dan mentari kembali meronakan langit. Anak-anak perempuan itu beringsut meninggalkan taman kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, pegal rasa pinggang kakek tua. Kakinya juga ikut mulai merasa nyeri. Ia tak sanggup lagi mengusap kakinya, terlalu nyeri pinggang untuk digerakkan. Kakek tua hanya bisa merebahkan diri ke taman, dan itu ia lakukan perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya setengah terbuka, ia ingin tidur untuk melupakan sakit di sekujur tubuh uzurnya, tapi ia ingin tetap membuka mata karena waktu untuk tontonan rutin yang menarik telah tiba. Sebuah tontonan yang berulang ribuan kali dihadapan kakek tua penghuni taman kota. Sebuah tontonan, meski membuat iri hatinya, namun ia bisa rasakan gelora meneruskan hidup umat manusia masih ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang laki perempuan memasuki taman kota bergandengan tangan. Jika kuping tuli kakek tua masih bisa mendengar, ia pasti tertawa terbahak-bahak. Si lelaki mengungkapkan janji-janji yang membuat merona pipi si perempuan. Betapa menipunya budaya manusia hingga menerjemahkan birahi yang memang bagian hidup manusia menjadi sebuah kegiatan luhur dalam ikatan yang palsu di atas surat kawin. Obrolan mereka semakin dalam, meski kakek tua hanya bisa mengukur dari mimik wajah si perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, pasti mereka tak sedikitpun perhatikan seonggok tulang berlapis daging tipis yang berselimutkan pakaian yang begitu lusuhnya sehingga hanya dengan menggunakan pengukuran kadar karbon 14 dapat diketahui usia pakaian itu. Paling, buat mereka, kakek tua hanyalah sebuah benda yang teronggok di atas kursi taman kota yang terlupakan oleh para petugas kebersihan kota. Dan hal persoalan sampah tercecer sudah biasa di kota itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, biarlah jika dunia hanya milik mereka berdua. Biarlah mereka akan buat sesak taman kota dengan gelora birahi berselubung asmara cinta. Toh, taman kota itu adalah memori dari seribu pasang cinta yang datang dan pergi, bersatu dan berpisah sepanjang tahun. Itu biasa. Dan kakek tua terlelap memejamkan mata meski sakit mengiringi perjalanan menuju ketidaksadarannya, tanpa harus menanti sepasang laki-perempuan itu pergi dan mungkin digantikan pasangan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek tua terbangun ketika seseorang yang sepertinya ia kenal datang mendekat. Sepertinya ia temani kakek tua sepanjang hidupnya di taman kota. Ia kenali orang itu, tapi otaknya tak bisa mencari nama orang itu dalam biomemorinya. Kakek tua bukanlah seorang yang sudah pikun, karenanya ia yakin tidak pernah tahu nama orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek tua bangkit, merasa gelisah penuhi buluh-buluh tubuhnya. Ia gelisah dan ingin pergi. Tak perlu ia tambah perih hidupnya dengan didekati seseorang yang ia merasa kenal, akrab, namun tak pernah ia bisa ketahui namanya.&lt;br /&gt;Jangan pergi, kawan tuaku, kata orang itu. Tak bisakah kau lihat ini hanyalah aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masihkah kau ingat malam beku berkabut di bulan Desember? Aku temani dirimu, dalam hujan es yang pedihnya sangat membuatmu menderita dan meracau dan meraung kesakitan. Aku temani dirimu meski tak ada satupun yang melindungi kita.&lt;br /&gt;Aku temani dirimu ketika sesak napas mulai jerat lehermu, membuat berat napasmu. Kau bernapas seperti layaknya seorang penyelam menggunakan aqualung. Lalu kunamakan dirimu, kakek tua, aqualung karena tak pernah mau beri namamu kepada siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan kau pergi, aqualungku yang malang. Tinggalah di sini bersamaku, aqualung. Semua akan berjalan baik-baik saja. Ah, kau tentunya bisa ceritakan potongan hidupmu yang telah bawa diri lusuhmu ke taman kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dulu berpikir aku adalah bagian dari cita dan gerak masa depan, kapanpun aku bermakna hidup dan ada. Yang aku bawa adalah impian yang kan menjadi nyata. Aku merasa menjadi lingkar pusat dari mata sebilah pedang bernama terobosan sejarah. Aku yakin yang aku bawa bersama lingkar pusat itu terus menerus meluas, menggerus keyakinan purba, antik, jaman pertengahan yang bukan hanya tidak layak masuk musium tetapi lebih baik masuk ke tong sampah sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa lampauku, oh masa keemasan kami. Kaum tua, menyingkirlah dan bawa semua rongsokkan antikmu, kami berteriak lantang. Kami seperti magnet yang terus menerus flamboyan, pusat perhatian. Seru kami telah gerakkan remaja yang jauh lebih muda untuk bertindak. Kami sangat percaya diri untuk menjadi bagian dari setiap gelora yang berkembang dan bertambah luas setiap tahun yang kami lalui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sedikitpun kami berpikir bahwa gelora itu berpusar, menyeret masuk lebih banyak remaja dan menghempas satu persatu dari kami. Mereka mampu bertindak dan mengerjakan hal-hal yang belum pernah kami pikirkan. Pikiran mereka menjadi jauh lebih tajam dan sangat deterministik, jauh lebih yakin dari apa yang kami yakini. Meski hanya sedikit sekali di antara mereka yang benar-benar mengerti apa yang mereka lakukan, dan yang sedikit itulah yang paling sering mengganggu kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kenyataan semakin berubah dan semakin memberikan kepastian atas keyakinan yang mereka percayai. Sedikit demi sedikit mereka bangkit dan menguat tanpa kami sadari, tanpa melibatkan sedikitpun nasihat kami, para pionir dan pemercik api gelora terobosan sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami yakin, bahwa gelora ini milik kami. Meski usia kami bertambah, jauh lebih tua dan mapan dari gelora yang kami percikkan apinya dulu. Gerak gelora itu harus tetap kami miliki, apapun caranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kaum tua datang kepada kami. Mereka tawarkan semua yang pernah kami impikan. Bagian kekuasaan, bagian pengambilan keputusan, dan semua yang kami yakini perlu kami peroleh. Gelora itu harus kembali ke tangan kami, dan kami mulai membagi-bagi itu semua di antara kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan waktu, makin jelas untuk kami bahwa kaum tua tetap beregenerasi. Sangat mengerikan, mereka tetap memfotokopi jiwa mereka ke dalam generasi robot-robot muda. Yang tak pernah bisa berpikir bebas meski ingin hidup merdeka seperti manusia modern. Dan lebih mengerikan lagi, karena kami ikut terlibat dalam proses ini karena hanya ingin mempertahankan kepemilikkan atas gelora yang kami percikkan dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami hanya diam, sebagian ada yang menjadi lebih aktif berdekat-dekatan dengan kaum tua. Perubahan harus dibumikan! teriak mereka. Kita harus melakukan cara-cara damai dan persuasif, kaum tua juga bisa dibujuk untuk berubah! teriak yang lain. Lalu kami semua dengan penuh oportunisme mengamini penculikan, penghilangan, dan pembantaian terhadap para remaja itu. Dan mereka merampok semua yang bisa curi dari apa yang kuyakini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seluruh keberadaan kerajaan agung teori kebebasan kami hancur kembali menjadi pasir untuk digerus ombak besar tirani. Teori itu ternyata telah lama bangkrut, lagipula kami pelajari itu dengan sayup-sayup tanpa pernah ikut meruntuhkan abad kegelapan untuk memahaminya dengan benar. Kami ternyata hanya mengambil jalan sepi-kosong tua dan kuno yang sudah terlalu mati untuk dapat bermimpi dengan sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh rasaku telah terlepas dari diriku, telapak tanganku tak lagi rasakan genggamanku. Jempol kakiku sudah terlalu kaku untuk melangkah, diam hanya menanti tumit sepatuku menjelajah. Aku siap pergi ke mana saja, aku siap untuk melenyap. Hanya berdiri buta di atas kedua kakiku, tak seorangpun ingin kutemui lagi. Tidak mengantuk dan tak punya tempat untuk dituju. Dengan semua ingatan dan nasib kudorong tenggelam menghilang dari gelombang ide kebebasan, biarkan aku melupakan hari ini, sampai hari esok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya bayanganku mengejar diriku sampai di taman kota ini. Aku telah menghilang melalui cincin asap dalam pikiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek tua bangkit meninggalkan teman yang tak pernah ia kenal itu. Berjalanlah ia melintasi jalan setapak di antara pohon-pohon taman kota, menghilang dalam gelapnya kerajaan malam. Tanpa berbusa-busa koar kebanggaan yang dulu pernah ia miliki, tanpa nama besar yang ia kini sesali hingga ia takut beritahu itu kepada siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinggir Jakarta, 16 Juni 2002&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20029404-114472347501149124?l=theredinparis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theredinparis.blogspot.com/feeds/114472347501149124/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20029404&amp;postID=114472347501149124' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20029404/posts/default/114472347501149124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20029404/posts/default/114472347501149124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theredinparis.blogspot.com/2006/04/aqualung-si-kakek-tua-tama_114472347501149124.html' title='Aqualung, Si Kakek Tua Taman Kota'/><author><name>C.Y.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09796239992249933339</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20029404.post-114472422584886499</id><published>2001-04-11T04:57:00.000+02:00</published><updated>2007-05-12T17:43:51.827+02:00</updated><title type='text'>Rampaian Bunga Liar dan Sebotol Molotov</title><content type='html'>Julian Verne&lt;br /&gt;(theredinparis.blogspot.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rampaian bunga liar dan hamparan bulir-bulir embun, mewarnai paginya. Hanyalah mentari yang terhalang kehadirannya oleh awan yang sedikit abu-abu. Ijul terbangun tadi oleh bisingnya suara MP3 komputernya yang tiba-tiba menyala, diperintahkan program alarm paginya. Lalupun bergerak badannya ke taman di depan rumah yang setiap dua bulan, selama beberapa minggu, menjadi semak-semak. Mendung pagi ini. Kemudian bergerak kakinya ke rumahnya dan langsung ke kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejam, iapun tengah menghirup kopi dan, sedikit saja, satu setengah piring nasi goreng telur. Buatannya sendiri. Lalu ia tengok jam analog di tangannya. Ah, waktunya tiba!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergegaslah ia mengambil tas kerjanya, meski ia bukan pekerja, dan segera ditariknya sepatu dari bawah kursi. Saatnya untuk kembali berjalan-jalan di daerah perkantoran Sudirman. Time to make a living.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak ia perhatikan gedung-gedung di hadapannya. Angkuh dan sombong, mereka menjulang di antara hamparan genting merah yang diselingi sedikit saja kehijauan. Angkuh dan sombong, di pinggir jalan yang luar biasa lebar, jalan untuk sedikit saja orang yang bisa mengendarai kendaraan di atasnya. Ironis, kuhidup di masa kemakmuran jauh lebih mudah diproduksi, tapi manusia tetap harus menjaja dirinya untuk kemakmuran yang menyengsarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka angkuh dan sombong, tak satupun jembel diperbolehkan menyentuh mereka. Meski benci terhadap mereka, gedung-gedung itu, tak kan pernah Ijul bertahan hidup tanpa adanya mereka. Dan itu betul-betul Ijul sadari. Merekalah yang memberinya nasi tiga piring tiap hari. Merekalah yang memberinya baju, celana, dan sepatu yang ia kenakan. Ha-ha-ha, yang kubenci ternyata adalah yang menghidupiku. Ironis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sampai lima bulan yang lalu ia hidup benar-benar dari gedung-gedung itu. Tak sampai lima bulan ia terpuruk, karena ketololan dan kerakusan orang lain. Tapi juga karena ketololan dirinya sendirilah yang menyebabkan ia mudah dihancurkan. Ia pikir dapat menjadi mandiri sesempurnanya begitu ia punya upah lumayan, fasilitas, dan lain sebagainya. Tak ia sangka ia TAK BEDA DARI KERAH BIRU. Hanyalah seorang upahan yang bisa disingkirkan setiap saat si pengupah menghendaki. Tak kurang tak lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hidup harus berjalan. You can't live only for yesterday. Yap, hidup tetap harus berjalan. Lalupun ia mencari cara baru untuk bertahan hidup. Bukan sebagai penghasil, produsen dalam bentuk apapun, entah barang dan jasa. Dengan kondisi bisnis seperti ini, sulit. Ia harus bisa bertahan hidup dengan gaya hidupnya yang lalu. Tak mau ia menjadi jembel rendahan yang hidup di jalanan dan perempatan lampu merah dan tidur di taman dan kolong jembatan. Ada jutaan penduduk Jakarta seperti mereka. Jikapun jadi gembel, harus high class. Karena itulah kini Ijul tetap ada di sekitar tempat ia bekerja di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara gedung-gedung bertingkat dan jalan-jalan megah dan lebar. Lalu lalang di trotoar berpapasan orang-orang yang berjalan cepat-cepat dan dering handphone dan pager memburu mereka. Makan siang atau sekadar minum kopi di resto-resto di basement gedung-gedung perkantoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kau buru, Jul? Living! Hidup nyaman tanpa harus buang keringat dam peluh. Aku tak kan lagi bicara moral. F**k with morality. Aku bukan lagi orang yang munafik yang bersembunyi di balik topeng agama untuk pertahankan posisi dan prestiseku. Aku tak lagi mengejar imaji palsu tentang seorang baik-baik, ketika diriku inginkan kebuasan, very much kinky, sexual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ia lakukan hanyalah isi hidup orang lain. Isi hidup orang-orang yang tertipu dan menipu diri untuk hidup independen. Buktikan emansipasi perempuan, dan berkata secara vulgar dan terang bahwa mereka tak tergantung laki-laki ketika merekapun butuh teman hidup, apapun kelaminnya. Mereka sepi dalam hidup hanya karena salah pandang emansipasi. Mereka pikir emansipasi adalah kemandirian dan kesendirian, bukan kerja sama yang setara antar dua atau lebih manusia. Para munafik yang selalu tipu diri inilah sasaran Ijul untuk bertahan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksistensi mereka, sebagai pembeli, pemilik, membuat mereka isi perut dan pulsa handphone Ijul. Yah, aku memang parasit! So what? Temui mereka di saat makan siang, ajak obrol, tukar nomor telephone, dan sisanya proses akan terjadi, selayaknya reaksi kimia yang dipenuhi katalis hingga luar biasa cepatnya mereka bisa akrab dan intim dengan Ijul, dan kenyanglah perut Ijul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halo sayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sial, siapa ini? Ijul periksa layar Hpnya. Tak ingin salah sebut nama, salah sebut berakibat fatal. Bisa hilang satu sumber penghidupan. Chintya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hallo, Chintya cintaku Ada apa? Aku lagi di jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, Chintya betapa malam cepat berlalu jika dirimu hadir.Gairahmu slalu infeksi diriku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu ada di jalan mana? Aku butuh kamu malam ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorry, aku tak bisa. Bagaimana esok saja. Aku ada rapat eksekutif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ijul berbohong, rapat apaan, kerja saja tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, besok saja. Bye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chintya yang munafik dan naif. Begitu mudah Ijul manfaatkan. Praktis semua yang Ijul miliki saat ini adalah pemberian Chintya. Lahir dari keluarga aristokrat Jawa yang memberinya kemunafikan dan dididik oleh University of Cambridge yang membuatnya naif. Tidak terlalu cantik tapi cukup sensual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermalam-malam ia habiskan bersama Chitya. Hanya dengarkan keluh kesahnya tentang keluarganya, ayah ibu yang penuh kekolotan melarangnya kawin dengan Gregorius yang latolik, tentang Gregorius yang kemudian meninggalkannya, tentang hidupnya yang sepi setelah tanpa Gregorius dan desakan ayah ibunya untuk menerima pinangan seorang Raden entah namanya apa dan entah dari mana asalnya, yang pasti ningrat dan kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chintya, ah Chintyaku yang ternyata tak pernah dewasa, yang hanya impikan kebebasan tapi tak berani konfrontasi dengan adat dan paham tua dianut ayah ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kata saudara-saudaraku nanti? Kakekku yang kerabat dekat Sultan bisa kena serangan jantung nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup sudah Ijul dengarkan tangis dan keluh kesah perempuan naif yang tak pernah dewasa ini. Chintya sudah bisa hidupi dirinya sendiri, peduli apa dengan keluarganya yang aristokrat kuno itu. Tapi kebebasan Chintya hanya dalam kemunafikan, di hadapan keluarganya ia berupaya menjadi anak yang baik dan berbakti, tapi ketika mereka tak ada, alterego yang selalu direpresi muncul dengan penuh keliaran dan kebuasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Ijul alami keliaran tersebut bermalam-malam, seolah selalu haus akan tubuh Ijul. Dan hampir berhasil seret kesadaran Ijul untuk merekat pada Chintya. CUKUP!!! Jangan lewati batas perasaanmu. Tinggalkan dia sekarang, cari yang lain! Dan Ijul tinggalkan sebuah kertas kecil di dalam sebuah paket bunga mawar merah di depan pintu apartemen perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kertas itu bertuliskan, Sorry. Ku tak lagi bisa teruskan hubungan kita. Ternyata jalan kita harus berbeda. Sorry, bye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Ijul bertemu dengan Sylvia, perempuan ambisius yang menjadi seorang manajer sebuah perusahaan dotcom yang baru dibangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertemu di sebuah kafe dengan pertunjukan musik Jazz live. Sylvia bersama teman-temannya sedangkan Ijul baru saja dari rumah Chintya, memang sedang memburu sumber hidup baru di kafe itu. Tak sengaja mereka terpaksa berbagi meja yang sama, lebih tepatnya tak sengaja untuk Sylvia sedangkan Ijul memang berniat begitu ia lihat sorot matanya. Sama dengan sorot mata Chintya. Sorot mata yang bosan atas hidup, justru sering merasa sepi di tengah keramaian yang hingar bingar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Sylvia bukanlah seorang yang mengekang dirinya di dalam tembok kemunafikan adat dan paham tua para aristokrat. Ayahnya yang seorang pengusaha dan ibunya yang berasal dari keluarga pegawai pemerintah membuatnya miliki kesadaran yang relatif maju, lebih liberal. Sylvia dididik untuk menjadi ambisius dan fair serta berani berargumen. Perdebatan adalah hal yang wajar dalam keluarganya. Lalu Ijul pun terpaksa habiskan sore dengan perdebatan-perdebatan. Untunglah koleksi buku Ijul relatif banyak, jadi iapun dapat menyetarakan dirinya dengan Sylvia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Sylvia adalah perempuan yang banyak menuntut kehadiran Ijul, meski ini menjadi modal Ijul untuk kemudian secara lebih terbuka untuk bergantung kepada Sylvia. Dan Sylviapun tahu hal itu, tapi tak keberatan. Tapi kemudian, bagaimana dengan Desi, Sinta, Rara, dan perempuan-perempuan lainnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jul, saya mau makan siang di Blok M, kamu akan temani saya kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jul, ban mobil saya kempes, kamu datang ke sini dong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanti malam Vina ngadain pesta, kamu datang temani saya ya. Jul, nanti malam kamu datangnya lebih awal yah, supaya saya ada teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jul, kamu tinggal aja di rumah saya, supaya kita bisa lebih sering bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Ijulpun kemudian menghilang dari hidup Sylvia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chintya dan Sylvia memang tak lagi warnai hidup Julian, meski beberapa perempuan seperti mereka tetap menjadi pemilik tubuh Ijul. Tapi kemudian hari-hari menjadi semakin membosankan dirinya, seolah gairah tak lagi berikan jiwa. Tak lagi rampaian bunga liar secerah hari-hari yang lalu ataupun kesegaran bulir-bulir embun di pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Sudirman dan gedung-gedung tinggi yang angkuh tetap menjadi tempat Ijul habiskan siang dan sore. Kafe dan Pub sekitar Jakarta tetap menjadi tempatnya habiskan malam. Dan perempuan-perempuan bersorot mata bosan atas hidup dan merasa sepi dalam keramaian tetap ia temani demi terisi perutnya dan pulsa handphonenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalanan kini dipenuhi orang, bergerombol, berteriak-teriak dengan megaphone, dan membawa bendera-bendera. Entah apa maknanya. Ijul tak peduli. Yang jelas Ijul sulit bertemu dengan perempuan-perempuan pemilik tubuhnya. Mereka jelas kini menghambat piring dan pulsanya terisi. Mereka hanyalah mengacaukan hidupnya, yang sudah sulit karena para perempuan pemilik tubuhnya mulai banyak yang kehilangan pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama kelamaan dan mau tak mau terpaksa Ijul menonton mereka. Ia dengarkan orang-orang yang muncul dari kerumunan yang kemudian berbicara dengan megaphone. Mereka bicara tentang ekonomi yang sulit. Mereka bicara tentang upah mereka yang rendah. Mereka bicara tentang penguasa yang tak pernah dengarkan kesusahan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan-kawan, saat ini kondisi ekonomi semakin persulit hidup kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dan apa yang kalian lakukan sekarang semakin mempersulit ekonomi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak dari kita yang diberhentikan oleh perusahaan-perusahaan, karena mereka memilih mengamankan keuntungan yang telah mereka dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, itu betul. Itu betul, daripada bangkrut. Kalian juga yang akan rugi dan lebih banyak lagi yang di-PHK kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita yang bekerja, kita yang menghasilkan barang, kita yang membanting tulang, tapi kenapa kita yang susah hidupnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ijul termenung. Ia ingat waktu ia masih bekerja. Ia ingat betapa bangganya ia atas hasil pekerjaannya. Lalu para pemegang saham memutuskan untuk menutup perusahaannya, membuat ia dan ribuan pekerja profesional lainnya kehilangan pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia lihat bertruk-truk manusia berseragam mendekati ribuan orang yang sedang menutup jalanan itu. Mereka berlompatan dan dengan sigap menyandang senapan, pentungan, dan tameng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kita mau hanyalah upah kita dinaikkan dan kawan-kawan kita yang di-PHK diberi kerja kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei, aku tak beda dengan mereka! Aku juga bisa dipecat setiap saat jika si pengupah menginginkan. Aku juga bekerja untuk upah yang layak, bukan bersembunyi di balik tipuan sumbangsih demi majunya Ibu Pertiwi. Aku ternyata sama dengan mereka. Aku adalah bagian dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para manusia berseragam dan bersenjata kini telah berbaris rapi. Pentungan mereka terlihat terayun-ayun dan tameng mereka dipegang erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan orang yang menutup jalan mulai terlihat gelisah, melihat kelakuan mereka yang berseragam dan bersenjata itu. Kepala demi kepala bermunculan, celingak-celinguk pandangi barisan rapi manusia berseragam dan bersenjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bergerak maju sambil ayunkan pentungan mereka. Beberapa mulai arahkan senapan kepada ribuan massa yang menutup jalan. Di belakang mereka sebuah truk besar dengan meriam air di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan massa itu duduk bersamaan sambil bernyanyi-nyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ijul terpana melihat gerak bersamaan ribuan orang duduk dan bernyanyi. Gema suara mereka mulai pengaruhi gairah Ijul. Aku sama seperti mereka. Aku sama seperti mereka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumm!!! Sesuatu telah ditembakkan, dan asap putih menyesakkan paru-paru selimuti sekitar Ijul. Mata juga terasa perih. Ijul terbatuk-batuk, ingin rasanya lari mencari udara segar, namun tak ada udara segar di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsat! Keparat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia-manusia berseragam dan bersenjata mulai berlari ke arah ribuan orang yang masih menutup jalan. Mereka menerjang, menendang, memukul, dan menembak siapapun yang halangi jalan mereka. Banyak yang mengaduh, banyak yang menangis, dan banyak yang berlari tunggang langgang. Namun Ijul masih terpaku, terpana, dan masih terbatuk-batuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia teringat betapa cintanya pada kerja dan bangganya pada hasil kerjanya. Ia teringat bingungnya ia ketika hilang pekerjaannya. Ia teringat Sylvia dan Chintya, dan perempuan-perempuan seperti mereka yang ia harus temani dan setubuhi untuk pelihara gaya hidupnya. Ia teringat ternyata ia lebih bodoh dari kerah biru yang dulu ia sepelekan. Ia teringat rampaian bunga liar dan hamparan bulir-bulir embun di pagi hari, yang selalu bangunkan tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang meletakkan sebuah botol minuman ringan bersumbu sumpalan kain di tangannya. Dan seorang lainnya berlari di hadapannya, membawa botol yang sejenis dengan sumbu yang sudah terbakar. Lalu orang itu lemparkan botolnya ke arah para manusia berseragam dan bersenjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sama dengan mereka! Aku sama seperti mereka! Hasil jerih payahku dirampas dan aku di-PHK sekehendak si pengupah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Julian, si gigolo malu-malu, si parasit setengah hati, melemparkan molotov ke arah barisan manusia berseragam dan bersenjata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2001&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20029404-114472422584886499?l=theredinparis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theredinparis.blogspot.com/feeds/114472422584886499/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20029404&amp;postID=114472422584886499' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20029404/posts/default/114472422584886499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20029404/posts/default/114472422584886499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theredinparis.blogspot.com/2006/04/rampaian-bunga-liar-dan-sebotol.html' title='Rampaian Bunga Liar dan Sebotol Molotov'/><author><name>C.Y.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09796239992249933339</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20029404.post-114472441762860873</id><published>2000-12-29T05:00:00.000+01:00</published><updated>2007-05-12T17:33:49.810+02:00</updated><title type='text'>Kisah Enam Puluh Juta Rupiah</title><content type='html'>Julian Verne&lt;br /&gt;(theredinparis.blogspot.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore kembali menjelang. Semilir angin lembut masuk ke dalam kamar kecil yang disesaki komputer, meja, buku-buku, printer, dan ransel. Matahari sore pancarkan sinar yang tembus jendela kamar itu, menyorot tepat di mata seorang laki-laki lusuh yang tidur terlentang. Semilir angin dan sorot mentari sore gugahkan kesadarannya. Laki-laki itu terbangun dan duduk, meski wajahnya masih ingin kembali berbaring dan tidur lebih lama lagi. Arlojinya beritahukan hari ini tanggal 31 Desember. Kertas-kertas berserakan di sekitarnya, ingatkan dia tentang sebuah janji sore ini. Entah apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sore yang pengap, kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan menjelang dan awan kelabu sumbat cahaya matahari sore. Laki-laki itu juga baru saja terbangun dari tidurnya, semenjak ia pulang dari kelilingi kota antarkan paket-paket titipan berupa-rupa. Pengapnya udara dan suara petir bersahut-sahutan merasuki otaknya dan hancurkan sebuah mimpi indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biiip! Biip! Bip!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aaah, baru terbangun harus juga terganggu pager. Dan di mana pager sialan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu merangkak menjelajahi kamar ukuran 2x3 m itu. Ia buka ranselnya. Tidak ada. Ia periksa kantung-kantung celananya. Tidak ada. Ia bolak-balik buku-buku dan kertas-kertas yang menyeraki lantai kamar itu. Tidak ada juga. Lalu laki-laki itu menengok ke pintu, satu-satunya pintu di kamarnya, dan tergantunglah sebuah benda bernama pager itu tertambat pada paku yang menempel di kusen pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sial, kapan aku taruh pager itu di sana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sedikit berjinjit ia ambil pager itu. Di layar berkelap-kelip tanda seru, memberitahukan ada pesan masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUL, SGR HUB. KANTOR: RANDI. (17.10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia letakkan pager itu di antara kertas-kertas yang berserakan, di samping sebuah amplop coklat besar. Lalu ia mengais-ngais tumpukkan kertas lainnya di salah satu sudut kamar. Mana peanas air keparat itu? Kenapa selalu bersembunyi ketika aku butuhkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ia temukan juga pemanas airnya. Setelah ia colokkan stekernya, ia masukkan batang pemanas tersebut ke sebuah gelas berisi air. Dari kantongnya ia keluarkan satu sachet Capuccino. Ia tunggu airnya mendidih, sambil menatap amplop besar coklat itu, yang sebelum tidur ia telah buka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa aku harus curi amplop keparat ini? Kenapa aku mudah tergoda untuk rampok isinya dan lihat surat yang sertainya? Ah, impian sial itu kini telah buatku susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama sudah memang ia impikan sebuah liburan ke Bali dengan sebelum dan sesudahnya menghampiri kota-kota kenangan masa lalunya, Bandung, Yogya, dan Malang. Terbayang selalu setiap ia istirahat di warung-warung melepas lelah sehabis antarkan paket-paket titipan, menikmati malam di sebuah restoran yang berpemandangan kota Bandung di puncak Dago bersama Arissa, pujaan masa lalunya. Lalu berjalan-jalan sepanjang Malioboro mencari-cari suvenir dan menikmati Susu Macan bersama Nidya, perempuan yang pernah beri hidupnya arti meski cuma sesaat. Dan menghabiskan malam dingin bersama Ratih, sepupu jauhnya yang dulu pernah berikan semalam penuh gairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan impian Ijul memang hanya untuk membayar utang-utang kenangan masa lalu yang belum pernah ia tebus. Hanya untuk buktikan diri kepada perempuan-perempuan itu bahwa merekalah pembentuk Ijul yang sekarang, yang kini tak lagi jadi parasit kepada siapapun. Ijul yang mandiri dan punya kerja tetap untuk cukupi hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didih air hempaskan lamunan Ijul. Dengan enggan ia angkat batang pemanas air dan cabut stekernya. Segelas Capuccino kini terseduh dan siap dihirup. Nanti dulu, jangan kau minum dulu Capuccino itu! Sebatang sigaret kretek tercabut dari kotaknya, dan kemudian tersulut di mulut Ijul. Ia hisap dalam-dalam dan puf, Gaskoo Entah kenapa Ijul mengeluarkan kata tak berarti itu sekarang, kata yang dulu selalu diucapkan teman obrolnya di masa yang telah lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aaaah, kenangan masa lalu yang nyaman dan indah selalu saja ganggu hidupku di kala sepi! Kenapa tak pernah bisa kunikmati hidup sunyiku sekali saja tanpa romantisme?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja ia angkat Capuccino untuk dekati bibirnya, pager kembali berbunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JULIAN, SGR HUB. KANTOR: RANDI. (17.50)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinipun Randi sudah panggilku dengan nama lengkap. Luar biasa. Dan Ijul segera tinggalkan kamar sumpeknya, mencari telepon umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hallo, Randi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa ini? Ijul ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yap. Ada apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa, ada apa Bangsat, otakmu ditaruh di mana? Kenapa paket amplop coklat itu belum kau antarkan? Awas, jangan macam-macam kau! Bisa dipecat kau nanti!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah aku antarkan, tadi siang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tadi siang sudah kau antarkan, kenapa pengirimnya bilang paketnya belum sampai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan penerimanya akan datang kemari. Lima belas menit lagi. Dengar! Aku ini teman baikmu. Daripada kau curi dan nanti malah dipecat, segera kemarikan amplop coklat itu. Aku tahu kau belum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya! Memang belum aku antarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang yang sangat disirami terik sinar matahari, kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Ijul merobek ujung amplop besar berwarna coklat. Tak dapat ia tahan godaan untuk membukanya, meski ia tahu amplop itu bukan untuknya. Untuk seseorang yang ia pikir tak akan pernah ia kenal dalam hidupnya. Seseorang yang tinggal di sebuah rumah sederhana berdinding batako tanpa plester. Apa isinya? Begitu padat, begitu tebal amplop ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya cukup cepat memberikan informasi kepada otaknya. Kertas-kertas terikat berbongkah-bongkah dan selembar kertas. Sesuatu yang berharga, pastilah. Ia tarik bongkah demi bongkah kertas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WOW! Satu, dua, tiga, , lima, dan enam ikat. Enam ikat uang seratus ribuan. WOW! Enam puluh juta rupiah, dikirimkan dalam sebuah amplop besar bewarna coklat melalui sebuah jasa pos partikelir! Gila benar pengirim uang ini! Kenapa tak melalui bank saja? Peduli bangsat! Di depanmu kini ada enam puluh juta perak, yang bisa penuhi impian-impianmu selama ini. Untuk apa menjadi peduli?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Ijul baca tulisan di atas selembar kertas pengiring uang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KERJA KEMARIN SUDAH BAGUS. INI PEMBAYARANNYA. SISANYA SETELAH ORDER TAHUN BARUAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa kerja kemarin, Ijul tak peduli. Yang ia bayangkan saat ini adalah liburan impiannya. Tak perlu tunggu lagi tabungannya yang semenjak enam bulan lalu selalu kembang kempis. Tak perlu naik bis dan kereta ekonomi. Argo Bromo menanti!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setelahnya, ia datangi alamat penerima. Untuk antarkan sebuah amplop besar berwarna coklat, yang telah ia rekatkan kembali tutupnya. Yang telah ia ganti isinya dengan selembar kertas bertuliskan: PEMBAYARANNYA SETELAH ORDER TAHUN BARUAN. Dengan huruf yang juga sama, tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menerima paketnya adalah seseorang, berambut cepak, yang wajah kotaknya pernah Ijul lihat di suatu waktu lain, entah kapan dan entah di mana. Wajahnya yang keras tersenyum lebar ketika tangan kekarnya yang berkulit gelap dan dipenuhi bekas-bekas gores dan lecet, menandatangani surat tanda terima. Dan Julian segera pulang ke tempat tinggalnya dengan penuh sukacita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam puluh juta rupiah di dalam ranselnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam bergerimis dan angin kencang, kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Randi menyentakkannya. Orang kekar itu sudah tahu uangnya ia curi dan ia akan datangi kantornya sekarang. Pastilah! Tak seorangpun akan mengirim uang, apalagi sebanyak enam puluh juta, dalam sebuah amplop coklat melalui jasa pos partikelir tanpa beritahu penerimanya. Wajah keras dan tangannya yang kekar itu kini membuatnya sedikit bergidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IQ is not the problem here,&lt;br /&gt;But my enemy is a neanderthal&lt;br /&gt;(Seven Days, Sting)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada nyali untuk kembali ke tempat tinggalnya. Ciut juga keberaniannya untuk berjalan-jalan malam hari. Si Neanderthal itu bisa menangkapku. Otaknya berpikir keras tentang tempat sementara untuk bersembunyi, minimal malam ini. Akhirnya ia putuskan pergi ke sebuah warung internet yang buka 24 jam, dan lumayan ramai komputer dan pengunjungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan berhenti tengah malam, kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sengaja ia temukan sebuah berita di sebuah portal, dan ternyata juga di halaman utama portal-portal lainnya selama berhari-hari. Bom meledak di belasan kota kurang dari seminggu yang lalu. Kenapa aku lupa? Puluhan gereja berantakan. Puluhan tewas dan puluhan orang lainnya luka-luka. Sebuah sketsa yang mirip dengan Si Neanderthal. Seorang sosiolog berkata, Ini adalah upaya untuk mengadu domba masyarakat. Ingat saja kasus Ambon Seorang perwira tinggi kepolisian berkata, sampai saat ini kami belum bisa menjamin tak ada bom lainnya yang meledak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, paling-paling tentara juga yang melakukannya. Siapa yang bisa membom bersamaan dengan peledak berdaya tinggi, kecuali orang-orang militer?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otaknya berhenti berpikir tiba-tiba. Si Neanderthal yang memang mirip tentara. KERJA KEMARIN SUDAH BAGUS. Enam puluh juta di ranselnya. Dan surat itu menyatakan, masih ada ORDER TAHUN BARUAN! Besok tanggal 31 Desember!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia download semua berita-berita tentang pemboman itu, dan langsung mencetaknya. Klik sana, klik sini, dan sepertinya waktu berjalan begitu cepat. Pagi menjelang dan kantuk mulai mengganggunya. Lalu tanpa sadar Ijul terlelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aih, beli apa lagi ya? Handphone sudah. Notebook, sudah. CD player yang bisa putar MP3, sudah juga. Baju baru, celana baru, dan sepatu baru, ah, sudah, sudah, dan sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ijul kini bergerak di antara rak-rak CD, memilih-milih CD pemusik-pemusik kesukaannya. Belum pernah ia rasakan kemewahan seperti ini. Seperti uangnya tanpa batas. Tak tanggung-tanggung, puluhan CD ia borong, membuat para pelayan toko musik itu tersenyum-senyum kesenangan. Bonus akhir tahun mereka bertambah!&lt;br /&gt;Ia dekati meja kasir, seorang perempuan manis berambut sebahu menjaganya. Ia tersenyum dan, astaga, ia mirip sekali dengan Nidya. Nidyaku yang sudah beri arti besar hidupku, meski ia bersamaku hanya sesaat.&lt;br /&gt;Sudah makmur kau sekarang, Julian, katanya sambil tersenyum, manis sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ia memang Nidya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak Nidya sedikit letih, meski senyumnya memang tetap saja manis. Maklum saja, pengunjung toko musik ini cukup banyak hari ini, entah mengapa. Kehendak dirinya timbul untuk ajak Nidya makan malam di satu tempat yang indah, dan habiskan malam bersamanya sampai mentari kembali terbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sengaja ia melihat keluar. Sebuah Jimny sedang memarkir dirinya. Orang melewatinya begitu saja, tak peduli jendelanya perlihatkan kotak-kotak besar di dalamnya. Dan pintu pengemudi terbuka, sejenak kemudian Si Neanderthal keluar dari sana. Ia melihat ke arah Ijul, membuka kacamata hitamnya, tersenyum lalu lambaikan tangannya. Ijul tersentak diam, keringat dingin penuhi wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan, jangan pukuli aku! Ini, ini ambil uangmu! Tapi jangan siksa aku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi si Neanderthal membalikkan badan, bergerak meninggalkan pusat perbelanjaan ini yang dipadati orang karena tempat ini satu-satunya yang buka di libur panjang Natal, Lebaran, dan Tahun Baru. Meninggalkan sebuah Jimny tua berisi kotak-kotak besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kotak-kotak besar? Wajah Ijul menjadi lebih pucat. Jimny itu berisi bom!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jul, kenapa, sakit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awas, Nidya, mobil itu berisi b...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriaknya terlambat, kelebat cahaya menyilaukan menyeruak membelah Jimny itu. Hamburan kaca dan benda-benda keras menghujam masuk ke dalam toko musik. Dan dentuman besar mengakhiri semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nidya! Nidya! Nidya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan kuat mencengkeram tengkuknya, bangunkan kesadarannya. Layar komputer ada di hadapannya, dan kertas-kertas print-out di sampingnya. Hanya untuk silaukan matanya. Tapi cengkeraman di tengkuknya hentikan gerak tubuhnya. Tangan yang lain telah kunci lengan Ijul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heh, bangsat tengik! Ketemu juga kau!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Neanderthal sudah temukan dirinya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhnya dibalikkan. Kini ia menghadap ke sebuah badan besar dan sebuah muka kotak yang kini semakin menyeramkan karena amarah. Dan klik! Bukan suara mouse, tapi dari sebuah benda dingin yang menempel di pelipisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa ini? kata Si Neanderthal sambil mengacung-acungkan kertas print out ke muka Ijul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah mencuri uangku, menghambat kerjaku, kini kau mau tahu apa kerjaku? Hah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ijul terdiam, menatap moncong pistol yang mengarah ke daerah di antara dua matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo, jalan. Dan jangan ribut! Kalau masih sayang dengan nyawamu kata Si Neanderthal berbisik di dekat mukanya. Napasnya bau sekali, sampai Ijul ingin muntah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa Ijul tak yakin Si Neanderthal benar-benar akan membiarkannya hidup. Tapi ia turuti saja kemauan orang itu. Sampai kepala-kepala bermunculan dari bilik-bilik komputer lainnya. Warnet ini ternyata masih penuh. Kepala-kepala itu bergerak mendekat sambil terus-menerus menatap mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ada gejolak dalam diri Ijul. Ada kehendak besar untuk lari, selamatkan nyawanya. Dan keberanian itu muncul bersamaan dengan kesempatan. Si Neanderthal terkejut betapa banyak orang di dalam warnet. Hardikkannya tadi ternyata kagetkan banyaqk orang dan buat mereka curiga. Tanpa sadar kakinya menendang sebuah tong sampah plastik. Terkejut, engkeramannya pada tubuh Ijul mengendor. Lalu kesempatan ini segera dimanfaatkan Ijul. Ia tendang kaki Si Neanderthal dan terlepaslah ia dari cengkeraman orang itu. Tapi pistol itu meletus, tak sengaja. Dor!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekuat tenaga ia rampas ranselnya dan berteriak, Tolong! Rampoook! Rampook!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Ijul lari ke arah orang-orang yang mendatanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segalanya berlangsung cepat. Si Neanderthal kini dipukuli oleh puluhan orang. Ia berteriak, Saya anggota! Saya anggota! Tapi orang-orang tak peduli. Mau ngerampok ya! Udah bunuh aja! Dor! Dor! Dua orang rubuh tertembak. Tapi orang-orang itu bukannya takut dan mundur, mereka malah semakin kalap. Kurang ajar! Rampok bangsat! Bunuh! Bunuh! Prang! Kepala Si Neanderthal dipukul oleh sebuah botol minuman ringan. Ahh, aduh! Aduh! Ampun! Jangan bunuh saya! Jangan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ijul melihat orang-orang menghujani Si Neanderthal dengan tikaman demi tikaman botol-botol pecah. Lari! Lari sekarang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi masih mendung, hari ini. 31 Desember. Tapi burung-burung berkicau ceria. Tukang-tukang ojek mengantarkan para orang-orang yang mau bepergian ke tempat penantian bus. Para ibu, anak gadis, ataupun pembantu-pembantu mereka sedang beringsut menuju pasar. Para bapak sedang berjoging atau mendengarkan suara perkutut mereka. Hari libur yang normal. Dan Ijul masih berlari menuju tempat tinggalnya. Hanya untuk kemudian ambruk di atas ranjang kecilnya, meski kertas-kertas berisi berita dari portal-portal internet menghambur dari tasnya. Hanya satu yang melintas dalam pikirannya sebelum tidur. Aku harus telpon Nidya nanti sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hallo. Nidya ada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Saya sendiri. Siapa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia telah lupakan diriku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini aku, Julian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, Ijul. Apa kabar? Sudah lama tak ketemu. Ada angin apa kamu telpon saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada angin apa? Seperti bicara dengan orang yang bukan spesial saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jemput aku besok sore di airport? Aku mau ke Yogya! Aku rindu kamu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali, aku tak bisa. Malam ini aku bersama suamiku berangkat ke rumah mertuaku Biasa silaturahmi&lt;br /&gt;Mertua? Silaturahmi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa badan Julian lemas. Utang penantian tak mungkin dibayar sekarang. Hanya Nidya yang terkenang ketika tekanan hidup tiba-tiba melonjak. Dan kini tak mungkin dikembalikan masa lalu yang telah beri arti bagi hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalupun hari kembali bergerak. 1 Januari. Hanya untuk kemudian digantikan hari yang lain. Tak ada yang khusus, hanyalah menggoda jiwa untuk pikirkan kepenatan yang telah lalu. Kepenatan yang sudah bawa jalan yang salah, meski jalan salah itu telah beri juga sebuah hari baik. Di kota-kota lain ledakan-ledakan bom mengguncang hidup jutaan orang penghuni mereka. Puluhan gedung hancur. Termasuk sebuah airport di Yogya, dari sebuah pesawat terbang yang tadinya akan ia tumpangi. Namun tidak di kotanya. Tak satupun bom meledak atau ditemukan di kotanya, meski sebelumnya jumlah tempat meledaknya bom jauh lebih banyak. Ya, jalan salah itu justru telah beri hidupnya hari baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula, ENAM PULUH JUTA RUPIAH MASIH DI RANSELNYA!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 29 Desember 2000&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20029404-114472441762860873?l=theredinparis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theredinparis.blogspot.com/feeds/114472441762860873/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20029404&amp;postID=114472441762860873' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20029404/posts/default/114472441762860873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20029404/posts/default/114472441762860873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theredinparis.blogspot.com/2006/04/kisah-enam-puluh-juta-rupiah.html' title='Kisah Enam Puluh Juta Rupiah'/><author><name>C.Y.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09796239992249933339</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
