Sebuah Jumat sore yang lain di Jakarta. Yang membedakan hanyalah halte-halte busway, yang berjejer secara ajaib setiap ratusan meter di tengah-tengah dua jalur yang semestinya tersibuk namun kosong. Di jalur lambat antrian bus reguler menyesaki, berebut penumpang. Perbuatan sia-sia didorong ketidakpastian dan keterpaksaan.
Buat mereka yang berkerumun di halte-halte, para pekerja yang menghabiskan siang mereka di gedung-gedung angkuh simbol kejayaan palsu masa silam, juga sebuah Jumat sore yang lain. Wajah dan mata yang redup kelelahan, menanti sesak berikutnya dalam bus-bus kota. Pandangan mereka begitu terpakunya pada arah di mana bus-bus itu datang, seperti layaknya menanti berkah-berkah dari surga yang dijanjikan nabi-nabi yang baru saja mereka imani sore sebelumnya.
Sepintas saja mereka terkadang melihat ke arah lain, kalau-kalau ada pengalih perhatian yang menarik untuk dilihat sesaat. Tapi selamat datang dalam dunia para kenalan, di mana pertemanan semakin melenyap ditelan keterasingan, disesaki paranoia dan dikungkung penjara rutinitas. Sebuah gudang besar apatisme bercandukan kekasih, agama, hura-hura, dan media massa.
Tidak, mereka yang menunggu di depan Plaza Danamon, di sisi kiri fly-over Karet Kuningan, tidak ada yang melihat dari mana laki-laki bersuram durja itu datang. Andai ia orang cacat atau segerombolan pengamen dan pengemis yang datang mencari makan di bus-bus kota, tentu ada seorang di antara mereka yang melihatnya. Tidak seorang pun yang ingat kapan ia datang, apalagi benar-benar mengetahui bagaimana ia bisa tiba-tiba teronggok di sana sekarang. Tak seorang pun yang mengenalnya, itu pasti. Selamat datang dalam dunia para kenalan! Dan juga pasti karena penampilan dan wajahnya juga begitu mudah terlupakan. Wajah yang terkesan tua, lusuh untuk tubuh mudanya. Sulit benar untuk tertarik mengingatnya.
Ia begitu ringkih, di balik kesuraman dan kelusuhannya. Seperti seorang anak yang mati ketakutan ketika melihat matahari dan angkasa. Mungkin satu saat ia pernah mencoba mencicipi keduanya di saat terlihat mudah, namun terbangnya terlalu tinggi dan akhirnya tersungkur mati seperti Ikarus anak Daedalus.
Dibelinya sebotol teh tapi ia tak membukanya, tak meminumnya. Hanya memakainya untuk mengompres lebam yang memberi biru pada pipinya. Seraya memainkan botol dingin di pipinya, mata sayunya sesekali jalang ke sekitar, meski tanpa membuka kelopak lebih besar.
Sesekali ia bergumam-gumam, mungkin bersenandung sebuah lagu kenangan lama. Mungkin sedikit saja menghidupkan kembali beberapa kilasan film tua hitam putih atau foto-foto sepia di kepalanya untuk memperjelas kesedihan di wajahnya. Tidak, ia tidak bermaksud mengumpulkan belas kasih seraya kemudian menyorongkan tangan kanannya dan berharap beberapa keping ratusan, dua ratusan, atau lima ratusan jatuh ke sana.
Mulutnya tetap berkomat-kamit, dan nyanyinya semakin terdengar orang-orang. “Kucoba-coba melempar gadis, gadis kulempar mangga kudapat. Hehe. Kucoba-coba melamar janda, janda kulamar dilempar manggis kudapat.” Sesekali kekehnya membuat khawatir orang-orang sekitarnya, terutama si pedagang minuman ringan di sampingnya yang agak was-was jika si aneh itu tiba-tiba mengamuk dan meludaskan kelontongan kecilnya. Lagu-lagu plesetan itu saja sudah cukup ‘kruk!’[1], meminjam istilah mahasiwa yang sering nangkring di depan kelontongan kecilnya. Apalagi, si pedagang juga harus terusik nada-nada yang keluar dari mulut si aneh. Cukup mengganggu di antara deru bus kota, bisingnya sepeda motor, dan klakson tak sabar taksi dan kendaraan pribadi yang melintas.
---
Jumat yang sama, di pagi hari, di sudut lain kota Jakarta.
Arrisa beringsut bangun dari ranjangnya. Kelopak matanya masih terlalu enggan untuk membiarkan cahaya pagi masuk melalui pupil dan menghujam retinanya. Mulutnya masih terasa masam, dipipinya selapis tipis sisa air liur yang mengering, tidak jatuh lalu terserap kain sarung bantal ataupun membentuk gambar-gambar kepulauan di seprai ranjangnya.
“Huahhhmmmmmm.” Tangannya meregang sejauh-jauhnya, seperti orang bangun tidur yang begitu mengikuti naskah film atau iklan di televisi. Ia merengkuh guling yang ada di sampingnya. Rasanya baru kemarin ia tidur dipeluk oleh laki-laki yang ia kenal jumat sebelumnya. Ia berbeda, ia selalu bicara dan tak pernah bisa ditebak apakah ia akan meniduri Arrisa atau tidak. Tak seperti yang lain, ia hanya senang bercerita.
Arrisa menguap untuk kedua kalinya, kemudian pandangannya menyapu isi kamarnya.
Kamar yang ditinggalinya masih berantakan dengan buku-buku fotokopian dan kertas-kertas berisi tulisan-tulisan yang di-print, hasil download dari situs-situs internet. Sesekali Arrisa melirik tumpukan beban hidupnya itu, tak ada niatan untuk merapikannya. Toh tubuhnya saja tak mau bergerak meninggalkan ranjangnya.
Ia kembali menerawang, menatap langit-langit yang kini telah dipenuhi berbagai macam coretan tangannya. Entah dengan spidol, kapur berwarna-warni, cat semprot, sampai dengan lipstik dan coklat batangan. Menurutnya, itu lebih baik dari pada hanya menjadi kamar yang rapi, diterangi neon yang hanya memberi cahaya putih sepi pada semua barang-barang tertata, serapi fasisme Hitler.
Kemarin, di saat ia sedang di ruang makan menyantap rantangan malam sementara penghuni kos yang lain asyik menatap lomba menyanyi di televisi, sebuah acara yang sedang digemari secara luas. Teman dari sebelah kamarnya berkata, “Kok sepertinya kamu agak berubah belakangan ini… Biasanya kamu langsung ‘ho-oh’ kalau diajak main keluar malam-malam, sekarang kamu hanya bilang ‘iya’ tapi balik lagi ke tumpukkan buku dan kertasmu itu.”
Yang lain berkomentar, “Udahlah Ev, si Risa lagi mikirin negara tuh… Percuma lo komentarin gitu, nggak ngaruh.” Ada lagi yang menyahut, “Alah, paling-paling gara-gara cowok yang dia bawa masuk minggu kemarin!” ‘Pemirsa’ acara perlombaan bernyanyi televisi yang lain segera menanggapi celetukan itu dengan cekikikan, satu dua di antara mereka mengerling nakal ke arah Arrisa, bergumam jahil: “Good girl.”
Arrisa cuma terkekeh. Meski ia sebenarnya mentertawakan ketololan mereka yang menontong acara dungu lomba nyanyi tersebut. Bayangkan saja, mereka seperti terbuai dengan acara tersebut, seolah mereka ikut dalam kompetisi di dalamnya. Keingintahuan mereka juga begitu dalam atas pendunguan itu, sampai-sampai mereka ikuti empat (bayangkan: empat!) acara lainnya yang berkaitan dengan acara dungu itu. Mereka ikuti bagaimana kehidupan para kontestan yang diisolir layaknya para gladiator jaman Romawi untuk berlatih bertarung, hanya bedanya mereka bernyanyi. Juga mereka ikuti segala kasus cinta lokasi atau kisah-kisah dalam masa isolasi tersebut. Dan seterusnya, dan seterusnya. Arrisa kadang-kadang berkhayal, bagusnya para calon penyanyi itu masing-masing diberi saja pedang dan perisai… Tapi, baru dua minggu sebelumnya, ia juga adalah salah satu penggemar pendunguan itu.
--
sebenarnya aku masih ingin tinggal,
bercerita semua yang telah kuingat dan kulihat.
hindari hempasan sepi
yang membuat otakku menjadi serpih-serpih.
lari dari kehendak waktu yang memburuku,
bersembunyi sesaat saja
untuk menempa remah-remah nyaliku.
Tapi aku harus pergi, entah kenapa…
--
+ Tidak, kita tidak akan pernah bicara tentang cinta.
- Kenapa? Apa kamu takut? Sudah hampir dua jumat kita bertemu. Kita punya banyak kesamaan! Kenapa tidak? Semua juga telah kuceritakan padamu, dan kamu juga sudah bercerita banyak. Kenapa?
+ Tidak akan, karena memang tidak bisa dan tidak perlu. Lihat, apakah yang telah kuceritakan adalah tentang diriku? Cinta? Kita tidak butuh kata terkutuk itu lagi, kita hanya ingin mabuk kepayangnya saja… Semuanya terlalu pendek, terlalu singkat, dan bisa berakhir kapanpun.
Keway tak pernah bercerita tentang dirinya secara serius. Selalu dalam potongan, selalu dalam serpihan. Ia malah bicara soal serunya bermain Time Crisis, yang sebenarnya Arrisa lebih terampil memainkannya. Di waktu yang lain, ia bicara soal nama-nama kapal induk Amerika Serikat dan dua orang tolol yang diabadikan menjadi nama kapal induk terbaru AS: Ronald Reagan dan George Bush. “Hidup Partai Republik! Long live the bigots!” Tapi begitu sedikit yang terungkap tentang dirinya sendiri.
- OK, kalau begitu. Kita bisa mulai sekarang. Aku mau kamu cerita, tentang dirimu. Apa susahnya sih?
+ Kamu tak kunjung juga mengerti… Aku tak bercerita tentang itu karena memang tidak ada yang bisa kuceritakan. Aku adalah Nemo: no one, no nothing! Sebenar apapun apa yang telah kuceritakan, kalau kamu melihatku, pasti kamu akan bilang itu omong kosong, rubbish, kalau aku boleh gunakan sedikit keinggrisan orang-orang seperti kamu. Kita terbiasa melihat kebenaran darimana ia berasal, siapa yang bicara, bukan nilainya itu sendiri. Kalau ada maling yang mengakui perbuatannya, kepala kita malah meragukan perkataannya. “Mana ada maling ngaku!”
- Kok jadi rumit begini sih… Dengar, aku cuma mau dengar cerita tentang kamu, itu saja…
Keway terdiam sesaat. Arrisa meminta satu hal yang tak bisa ia penuhi, karena ia tidak lagi mengerti tentang dirinya, tak lagi mengerti televisinya, tak lagi mengerti makanannya, tak lagi mengerti pakaiannya…
+ Aku memang tidak tahu lagi tentang diriku, tidak lagi penting. Kurasa tak kuperlukan, ketika memang mudah menghirup udara daripada mengerti hidup. Sudahlah, jangan kita bahas lagi. Besok aku pergi.
--
Keway meninggalkan sebuah tas di kamar Arrisa. Mungkin ia lupa, atau sebatas menitipkannya untuk sementara waktu. Atau mungkin ia masih punya rencana untuk tinggal di kamar itu. Arrisa tak ingin menebaknya dan meski tergoda untuk membukanya, ia mencoba membiarkan tas tersebut tenang pada tempat dan kondisinya sekarang.
Berjam-jam ia pandangi tas itu. Gambaran Keway melintasi kepalanya, begitu akrab sekaligus asing. Ketika ia menoleh ke jendela kamarnya, yang ia lihat malah kilasan adegan pertemuannya dengan Keway, laki-laki yang duduk bersila di jalur menuju busway, bukan mengemis, mengamen, ataupun berdagang. Hanya duduk bersila saja di sana, selayak seorang yang sedang bermeditasi. Ketika ia melihat lagi ke tas tersebut, adegan yang lain muncul tetapi tokohnya tetap saja Keway, seseorang yang sebenarnya tak begitu dikenalnya.
Akhirnya ia tak bisa menahan dirinya lagi. Ia bangkit, bergerak dengan dua langkah menuju tas yang menggodanya sejak berjam-jam lalu. Kita tidak butuh kata terkutuk itu lagi… Ia sentak tas tersebut, ia buka dan intip isinya. Buku dan kertas-kertas print-out. Hanya itu saja. Ia berharap semua yang ada dalam tas itu bisa menjelaskan lebih banyak tentang Keway. Ia keluarkan semua, buku, kertas, makalah selayak penjinak bom mencari dinamit yang akan meledak beberapa saat lagi.
Ia ambil satu makalah yang agak kumal, dan mulai membacanya.
“Tidak ada demokrasi di Indonesia…”
--
Keway masih duduk di samping pedagang minuman ringan. Botol minuman dingin yang ia gunakan untuk mengompres lebam di pipinya sudah tak lagi dingin. Tapi raut wajah pedagangnya masih tetap sama, was-was dan kakinya seperti siap melompat lari. Ia hentikan lagu-lagu tololnya. Sudah dua jumat terlewati, saatnya berjalan. Sudah terlalu lama berhenti…
Jakarta 14 April 2004
[1] Istilah yang dikembangkan di beberapa kalangan muda Jakarta, dikembangkan dari istilah ‘garing’ (kering) dan bunyi ketika kerupuk dikunyah pertama kali. Kurang lebih artinya, humor yang tidak lucu.
Inscription à :
Publier les commentaires (Atom)
Aucun commentaire:
Enregistrer un commentaire