Julian Verne
(theredinparis.blogspot.com)
Seorang kakek tua duduk di kursi taman kota. Lusuh, dia hanya termenung. Di sepanjang garis pandang matanya, anak-anak perempuan berlarian. Sebagian bermain lompat tali. Sesekali terbesit pikiran kotor di kepala kakek itu ketika sesekali juga rok anak-anak perempuan itu tersingkap karena melompat-lompat.
Sore memang menjelang, anak-anak perempuan itu semakin ceria. Menyanyikan lagu-lagu tolol yang entah siapa yang menciptakannya. Tali berayun semakin kencang membentuk satu loop helix berulang-ulang dan semakin kencang teriakan mereka. Tak ada yang baru, pikir kakek itu.
Lagipula, hidup semacam inilah yang ia kenal selama sepuluh, duapuluh tahun, atau berapa puluh tahun pun, ia pun tak ingat lagi.
Sore sebentar lagi pergi meninggalkan taman kota, dan mentari kembali meronakan langit. Anak-anak perempuan itu beringsut meninggalkan taman kota.
Ah, pegal rasa pinggang kakek tua. Kakinya juga ikut mulai merasa nyeri. Ia tak sanggup lagi mengusap kakinya, terlalu nyeri pinggang untuk digerakkan. Kakek tua hanya bisa merebahkan diri ke taman, dan itu ia lakukan perlahan.
Matanya setengah terbuka, ia ingin tidur untuk melupakan sakit di sekujur tubuh uzurnya, tapi ia ingin tetap membuka mata karena waktu untuk tontonan rutin yang menarik telah tiba. Sebuah tontonan yang berulang ribuan kali dihadapan kakek tua penghuni taman kota. Sebuah tontonan, meski membuat iri hatinya, namun ia bisa rasakan gelora meneruskan hidup umat manusia masih ada.
Sepasang laki perempuan memasuki taman kota bergandengan tangan. Jika kuping tuli kakek tua masih bisa mendengar, ia pasti tertawa terbahak-bahak. Si lelaki mengungkapkan janji-janji yang membuat merona pipi si perempuan. Betapa menipunya budaya manusia hingga menerjemahkan birahi yang memang bagian hidup manusia menjadi sebuah kegiatan luhur dalam ikatan yang palsu di atas surat kawin. Obrolan mereka semakin dalam, meski kakek tua hanya bisa mengukur dari mimik wajah si perempuan.
Ah, pasti mereka tak sedikitpun perhatikan seonggok tulang berlapis daging tipis yang berselimutkan pakaian yang begitu lusuhnya sehingga hanya dengan menggunakan pengukuran kadar karbon 14 dapat diketahui usia pakaian itu. Paling, buat mereka, kakek tua hanyalah sebuah benda yang teronggok di atas kursi taman kota yang terlupakan oleh para petugas kebersihan kota. Dan hal persoalan sampah tercecer sudah biasa di kota itu.
Tapi, biarlah jika dunia hanya milik mereka berdua. Biarlah mereka akan buat sesak taman kota dengan gelora birahi berselubung asmara cinta. Toh, taman kota itu adalah memori dari seribu pasang cinta yang datang dan pergi, bersatu dan berpisah sepanjang tahun. Itu biasa. Dan kakek tua terlelap memejamkan mata meski sakit mengiringi perjalanan menuju ketidaksadarannya, tanpa harus menanti sepasang laki-perempuan itu pergi dan mungkin digantikan pasangan yang lain.
***
Kakek tua terbangun ketika seseorang yang sepertinya ia kenal datang mendekat. Sepertinya ia temani kakek tua sepanjang hidupnya di taman kota. Ia kenali orang itu, tapi otaknya tak bisa mencari nama orang itu dalam biomemorinya. Kakek tua bukanlah seorang yang sudah pikun, karenanya ia yakin tidak pernah tahu nama orang itu.
Kakek tua bangkit, merasa gelisah penuhi buluh-buluh tubuhnya. Ia gelisah dan ingin pergi. Tak perlu ia tambah perih hidupnya dengan didekati seseorang yang ia merasa kenal, akrab, namun tak pernah ia bisa ketahui namanya.
Jangan pergi, kawan tuaku, kata orang itu. Tak bisakah kau lihat ini hanyalah aku.
***
Masihkah kau ingat malam beku berkabut di bulan Desember? Aku temani dirimu, dalam hujan es yang pedihnya sangat membuatmu menderita dan meracau dan meraung kesakitan. Aku temani dirimu meski tak ada satupun yang melindungi kita.
Aku temani dirimu ketika sesak napas mulai jerat lehermu, membuat berat napasmu. Kau bernapas seperti layaknya seorang penyelam menggunakan aqualung. Lalu kunamakan dirimu, kakek tua, aqualung karena tak pernah mau beri namamu kepada siapapun.
Jangan kau pergi, aqualungku yang malang. Tinggalah di sini bersamaku, aqualung. Semua akan berjalan baik-baik saja. Ah, kau tentunya bisa ceritakan potongan hidupmu yang telah bawa diri lusuhmu ke taman kota ini.
***
Aku dulu berpikir aku adalah bagian dari cita dan gerak masa depan, kapanpun aku bermakna hidup dan ada. Yang aku bawa adalah impian yang kan menjadi nyata. Aku merasa menjadi lingkar pusat dari mata sebilah pedang bernama terobosan sejarah. Aku yakin yang aku bawa bersama lingkar pusat itu terus menerus meluas, menggerus keyakinan purba, antik, jaman pertengahan yang bukan hanya tidak layak masuk musium tetapi lebih baik masuk ke tong sampah sejarah.
Masa lampauku, oh masa keemasan kami. Kaum tua, menyingkirlah dan bawa semua rongsokkan antikmu, kami berteriak lantang. Kami seperti magnet yang terus menerus flamboyan, pusat perhatian. Seru kami telah gerakkan remaja yang jauh lebih muda untuk bertindak. Kami sangat percaya diri untuk menjadi bagian dari setiap gelora yang berkembang dan bertambah luas setiap tahun yang kami lalui.
Tak sedikitpun kami berpikir bahwa gelora itu berpusar, menyeret masuk lebih banyak remaja dan menghempas satu persatu dari kami. Mereka mampu bertindak dan mengerjakan hal-hal yang belum pernah kami pikirkan. Pikiran mereka menjadi jauh lebih tajam dan sangat deterministik, jauh lebih yakin dari apa yang kami yakini. Meski hanya sedikit sekali di antara mereka yang benar-benar mengerti apa yang mereka lakukan, dan yang sedikit itulah yang paling sering mengganggu kami.
Namun kenyataan semakin berubah dan semakin memberikan kepastian atas keyakinan yang mereka percayai. Sedikit demi sedikit mereka bangkit dan menguat tanpa kami sadari, tanpa melibatkan sedikitpun nasihat kami, para pionir dan pemercik api gelora terobosan sejarah.
Kami yakin, bahwa gelora ini milik kami. Meski usia kami bertambah, jauh lebih tua dan mapan dari gelora yang kami percikkan apinya dulu. Gerak gelora itu harus tetap kami miliki, apapun caranya.
Lalu kaum tua datang kepada kami. Mereka tawarkan semua yang pernah kami impikan. Bagian kekuasaan, bagian pengambilan keputusan, dan semua yang kami yakini perlu kami peroleh. Gelora itu harus kembali ke tangan kami, dan kami mulai membagi-bagi itu semua di antara kami.
***
Seiring dengan waktu, makin jelas untuk kami bahwa kaum tua tetap beregenerasi. Sangat mengerikan, mereka tetap memfotokopi jiwa mereka ke dalam generasi robot-robot muda. Yang tak pernah bisa berpikir bebas meski ingin hidup merdeka seperti manusia modern. Dan lebih mengerikan lagi, karena kami ikut terlibat dalam proses ini karena hanya ingin mempertahankan kepemilikkan atas gelora yang kami percikkan dulu.
Kami hanya diam, sebagian ada yang menjadi lebih aktif berdekat-dekatan dengan kaum tua. Perubahan harus dibumikan! teriak mereka. Kita harus melakukan cara-cara damai dan persuasif, kaum tua juga bisa dibujuk untuk berubah! teriak yang lain. Lalu kami semua dengan penuh oportunisme mengamini penculikan, penghilangan, dan pembantaian terhadap para remaja itu. Dan mereka merampok semua yang bisa curi dari apa yang kuyakini.
***
Dan seluruh keberadaan kerajaan agung teori kebebasan kami hancur kembali menjadi pasir untuk digerus ombak besar tirani. Teori itu ternyata telah lama bangkrut, lagipula kami pelajari itu dengan sayup-sayup tanpa pernah ikut meruntuhkan abad kegelapan untuk memahaminya dengan benar. Kami ternyata hanya mengambil jalan sepi-kosong tua dan kuno yang sudah terlalu mati untuk dapat bermimpi dengan sungguh-sungguh.
Seluruh rasaku telah terlepas dari diriku, telapak tanganku tak lagi rasakan genggamanku. Jempol kakiku sudah terlalu kaku untuk melangkah, diam hanya menanti tumit sepatuku menjelajah. Aku siap pergi ke mana saja, aku siap untuk melenyap. Hanya berdiri buta di atas kedua kakiku, tak seorangpun ingin kutemui lagi. Tidak mengantuk dan tak punya tempat untuk dituju. Dengan semua ingatan dan nasib kudorong tenggelam menghilang dari gelombang ide kebebasan, biarkan aku melupakan hari ini, sampai hari esok.
Pada akhirnya bayanganku mengejar diriku sampai di taman kota ini. Aku telah menghilang melalui cincin asap dalam pikiranku.
***
Kakek tua bangkit meninggalkan teman yang tak pernah ia kenal itu. Berjalanlah ia melintasi jalan setapak di antara pohon-pohon taman kota, menghilang dalam gelapnya kerajaan malam. Tanpa berbusa-busa koar kebanggaan yang dulu pernah ia miliki, tanpa nama besar yang ia kini sesali hingga ia takut beritahu itu kepada siapapun.
Pinggir Jakarta, 16 Juni 2002
(theredinparis.blogspot.com)
Seorang kakek tua duduk di kursi taman kota. Lusuh, dia hanya termenung. Di sepanjang garis pandang matanya, anak-anak perempuan berlarian. Sebagian bermain lompat tali. Sesekali terbesit pikiran kotor di kepala kakek itu ketika sesekali juga rok anak-anak perempuan itu tersingkap karena melompat-lompat.
Sore memang menjelang, anak-anak perempuan itu semakin ceria. Menyanyikan lagu-lagu tolol yang entah siapa yang menciptakannya. Tali berayun semakin kencang membentuk satu loop helix berulang-ulang dan semakin kencang teriakan mereka. Tak ada yang baru, pikir kakek itu.
Lagipula, hidup semacam inilah yang ia kenal selama sepuluh, duapuluh tahun, atau berapa puluh tahun pun, ia pun tak ingat lagi.
Sore sebentar lagi pergi meninggalkan taman kota, dan mentari kembali meronakan langit. Anak-anak perempuan itu beringsut meninggalkan taman kota.
Ah, pegal rasa pinggang kakek tua. Kakinya juga ikut mulai merasa nyeri. Ia tak sanggup lagi mengusap kakinya, terlalu nyeri pinggang untuk digerakkan. Kakek tua hanya bisa merebahkan diri ke taman, dan itu ia lakukan perlahan.
Matanya setengah terbuka, ia ingin tidur untuk melupakan sakit di sekujur tubuh uzurnya, tapi ia ingin tetap membuka mata karena waktu untuk tontonan rutin yang menarik telah tiba. Sebuah tontonan yang berulang ribuan kali dihadapan kakek tua penghuni taman kota. Sebuah tontonan, meski membuat iri hatinya, namun ia bisa rasakan gelora meneruskan hidup umat manusia masih ada.
Sepasang laki perempuan memasuki taman kota bergandengan tangan. Jika kuping tuli kakek tua masih bisa mendengar, ia pasti tertawa terbahak-bahak. Si lelaki mengungkapkan janji-janji yang membuat merona pipi si perempuan. Betapa menipunya budaya manusia hingga menerjemahkan birahi yang memang bagian hidup manusia menjadi sebuah kegiatan luhur dalam ikatan yang palsu di atas surat kawin. Obrolan mereka semakin dalam, meski kakek tua hanya bisa mengukur dari mimik wajah si perempuan.
Ah, pasti mereka tak sedikitpun perhatikan seonggok tulang berlapis daging tipis yang berselimutkan pakaian yang begitu lusuhnya sehingga hanya dengan menggunakan pengukuran kadar karbon 14 dapat diketahui usia pakaian itu. Paling, buat mereka, kakek tua hanyalah sebuah benda yang teronggok di atas kursi taman kota yang terlupakan oleh para petugas kebersihan kota. Dan hal persoalan sampah tercecer sudah biasa di kota itu.
Tapi, biarlah jika dunia hanya milik mereka berdua. Biarlah mereka akan buat sesak taman kota dengan gelora birahi berselubung asmara cinta. Toh, taman kota itu adalah memori dari seribu pasang cinta yang datang dan pergi, bersatu dan berpisah sepanjang tahun. Itu biasa. Dan kakek tua terlelap memejamkan mata meski sakit mengiringi perjalanan menuju ketidaksadarannya, tanpa harus menanti sepasang laki-perempuan itu pergi dan mungkin digantikan pasangan yang lain.
***
Kakek tua terbangun ketika seseorang yang sepertinya ia kenal datang mendekat. Sepertinya ia temani kakek tua sepanjang hidupnya di taman kota. Ia kenali orang itu, tapi otaknya tak bisa mencari nama orang itu dalam biomemorinya. Kakek tua bukanlah seorang yang sudah pikun, karenanya ia yakin tidak pernah tahu nama orang itu.
Kakek tua bangkit, merasa gelisah penuhi buluh-buluh tubuhnya. Ia gelisah dan ingin pergi. Tak perlu ia tambah perih hidupnya dengan didekati seseorang yang ia merasa kenal, akrab, namun tak pernah ia bisa ketahui namanya.
Jangan pergi, kawan tuaku, kata orang itu. Tak bisakah kau lihat ini hanyalah aku.
***
Masihkah kau ingat malam beku berkabut di bulan Desember? Aku temani dirimu, dalam hujan es yang pedihnya sangat membuatmu menderita dan meracau dan meraung kesakitan. Aku temani dirimu meski tak ada satupun yang melindungi kita.
Aku temani dirimu ketika sesak napas mulai jerat lehermu, membuat berat napasmu. Kau bernapas seperti layaknya seorang penyelam menggunakan aqualung. Lalu kunamakan dirimu, kakek tua, aqualung karena tak pernah mau beri namamu kepada siapapun.
Jangan kau pergi, aqualungku yang malang. Tinggalah di sini bersamaku, aqualung. Semua akan berjalan baik-baik saja. Ah, kau tentunya bisa ceritakan potongan hidupmu yang telah bawa diri lusuhmu ke taman kota ini.
***
Aku dulu berpikir aku adalah bagian dari cita dan gerak masa depan, kapanpun aku bermakna hidup dan ada. Yang aku bawa adalah impian yang kan menjadi nyata. Aku merasa menjadi lingkar pusat dari mata sebilah pedang bernama terobosan sejarah. Aku yakin yang aku bawa bersama lingkar pusat itu terus menerus meluas, menggerus keyakinan purba, antik, jaman pertengahan yang bukan hanya tidak layak masuk musium tetapi lebih baik masuk ke tong sampah sejarah.
Masa lampauku, oh masa keemasan kami. Kaum tua, menyingkirlah dan bawa semua rongsokkan antikmu, kami berteriak lantang. Kami seperti magnet yang terus menerus flamboyan, pusat perhatian. Seru kami telah gerakkan remaja yang jauh lebih muda untuk bertindak. Kami sangat percaya diri untuk menjadi bagian dari setiap gelora yang berkembang dan bertambah luas setiap tahun yang kami lalui.
Tak sedikitpun kami berpikir bahwa gelora itu berpusar, menyeret masuk lebih banyak remaja dan menghempas satu persatu dari kami. Mereka mampu bertindak dan mengerjakan hal-hal yang belum pernah kami pikirkan. Pikiran mereka menjadi jauh lebih tajam dan sangat deterministik, jauh lebih yakin dari apa yang kami yakini. Meski hanya sedikit sekali di antara mereka yang benar-benar mengerti apa yang mereka lakukan, dan yang sedikit itulah yang paling sering mengganggu kami.
Namun kenyataan semakin berubah dan semakin memberikan kepastian atas keyakinan yang mereka percayai. Sedikit demi sedikit mereka bangkit dan menguat tanpa kami sadari, tanpa melibatkan sedikitpun nasihat kami, para pionir dan pemercik api gelora terobosan sejarah.
Kami yakin, bahwa gelora ini milik kami. Meski usia kami bertambah, jauh lebih tua dan mapan dari gelora yang kami percikkan apinya dulu. Gerak gelora itu harus tetap kami miliki, apapun caranya.
Lalu kaum tua datang kepada kami. Mereka tawarkan semua yang pernah kami impikan. Bagian kekuasaan, bagian pengambilan keputusan, dan semua yang kami yakini perlu kami peroleh. Gelora itu harus kembali ke tangan kami, dan kami mulai membagi-bagi itu semua di antara kami.
***
Seiring dengan waktu, makin jelas untuk kami bahwa kaum tua tetap beregenerasi. Sangat mengerikan, mereka tetap memfotokopi jiwa mereka ke dalam generasi robot-robot muda. Yang tak pernah bisa berpikir bebas meski ingin hidup merdeka seperti manusia modern. Dan lebih mengerikan lagi, karena kami ikut terlibat dalam proses ini karena hanya ingin mempertahankan kepemilikkan atas gelora yang kami percikkan dulu.
Kami hanya diam, sebagian ada yang menjadi lebih aktif berdekat-dekatan dengan kaum tua. Perubahan harus dibumikan! teriak mereka. Kita harus melakukan cara-cara damai dan persuasif, kaum tua juga bisa dibujuk untuk berubah! teriak yang lain. Lalu kami semua dengan penuh oportunisme mengamini penculikan, penghilangan, dan pembantaian terhadap para remaja itu. Dan mereka merampok semua yang bisa curi dari apa yang kuyakini.
***
Dan seluruh keberadaan kerajaan agung teori kebebasan kami hancur kembali menjadi pasir untuk digerus ombak besar tirani. Teori itu ternyata telah lama bangkrut, lagipula kami pelajari itu dengan sayup-sayup tanpa pernah ikut meruntuhkan abad kegelapan untuk memahaminya dengan benar. Kami ternyata hanya mengambil jalan sepi-kosong tua dan kuno yang sudah terlalu mati untuk dapat bermimpi dengan sungguh-sungguh.
Seluruh rasaku telah terlepas dari diriku, telapak tanganku tak lagi rasakan genggamanku. Jempol kakiku sudah terlalu kaku untuk melangkah, diam hanya menanti tumit sepatuku menjelajah. Aku siap pergi ke mana saja, aku siap untuk melenyap. Hanya berdiri buta di atas kedua kakiku, tak seorangpun ingin kutemui lagi. Tidak mengantuk dan tak punya tempat untuk dituju. Dengan semua ingatan dan nasib kudorong tenggelam menghilang dari gelombang ide kebebasan, biarkan aku melupakan hari ini, sampai hari esok.
Pada akhirnya bayanganku mengejar diriku sampai di taman kota ini. Aku telah menghilang melalui cincin asap dalam pikiranku.
***
Kakek tua bangkit meninggalkan teman yang tak pernah ia kenal itu. Berjalanlah ia melintasi jalan setapak di antara pohon-pohon taman kota, menghilang dalam gelapnya kerajaan malam. Tanpa berbusa-busa koar kebanggaan yang dulu pernah ia miliki, tanpa nama besar yang ia kini sesali hingga ia takut beritahu itu kepada siapapun.
Pinggir Jakarta, 16 Juni 2002
Aucun commentaire:
Enregistrer un commentaire