11 avril 2001

Rampaian Bunga Liar dan Sebotol Molotov

Julian Verne
(theredinparis.blogspot.com)

Rampaian bunga liar dan hamparan bulir-bulir embun, mewarnai paginya. Hanyalah mentari yang terhalang kehadirannya oleh awan yang sedikit abu-abu. Ijul terbangun tadi oleh bisingnya suara MP3 komputernya yang tiba-tiba menyala, diperintahkan program alarm paginya. Lalupun bergerak badannya ke taman di depan rumah yang setiap dua bulan, selama beberapa minggu, menjadi semak-semak. Mendung pagi ini. Kemudian bergerak kakinya ke rumahnya dan langsung ke kamar mandi.

Sejam, iapun tengah menghirup kopi dan, sedikit saja, satu setengah piring nasi goreng telur. Buatannya sendiri. Lalu ia tengok jam analog di tangannya. Ah, waktunya tiba!

Bergegaslah ia mengambil tas kerjanya, meski ia bukan pekerja, dan segera ditariknya sepatu dari bawah kursi. Saatnya untuk kembali berjalan-jalan di daerah perkantoran Sudirman. Time to make a living.

***

Sejenak ia perhatikan gedung-gedung di hadapannya. Angkuh dan sombong, mereka menjulang di antara hamparan genting merah yang diselingi sedikit saja kehijauan. Angkuh dan sombong, di pinggir jalan yang luar biasa lebar, jalan untuk sedikit saja orang yang bisa mengendarai kendaraan di atasnya. Ironis, kuhidup di masa kemakmuran jauh lebih mudah diproduksi, tapi manusia tetap harus menjaja dirinya untuk kemakmuran yang menyengsarakan.

Mereka angkuh dan sombong, tak satupun jembel diperbolehkan menyentuh mereka. Meski benci terhadap mereka, gedung-gedung itu, tak kan pernah Ijul bertahan hidup tanpa adanya mereka. Dan itu betul-betul Ijul sadari. Merekalah yang memberinya nasi tiga piring tiap hari. Merekalah yang memberinya baju, celana, dan sepatu yang ia kenakan. Ha-ha-ha, yang kubenci ternyata adalah yang menghidupiku. Ironis.

***

Tak sampai lima bulan yang lalu ia hidup benar-benar dari gedung-gedung itu. Tak sampai lima bulan ia terpuruk, karena ketololan dan kerakusan orang lain. Tapi juga karena ketololan dirinya sendirilah yang menyebabkan ia mudah dihancurkan. Ia pikir dapat menjadi mandiri sesempurnanya begitu ia punya upah lumayan, fasilitas, dan lain sebagainya. Tak ia sangka ia TAK BEDA DARI KERAH BIRU. Hanyalah seorang upahan yang bisa disingkirkan setiap saat si pengupah menghendaki. Tak kurang tak lebih.

Tapi hidup harus berjalan. You can't live only for yesterday. Yap, hidup tetap harus berjalan. Lalupun ia mencari cara baru untuk bertahan hidup. Bukan sebagai penghasil, produsen dalam bentuk apapun, entah barang dan jasa. Dengan kondisi bisnis seperti ini, sulit. Ia harus bisa bertahan hidup dengan gaya hidupnya yang lalu. Tak mau ia menjadi jembel rendahan yang hidup di jalanan dan perempatan lampu merah dan tidur di taman dan kolong jembatan. Ada jutaan penduduk Jakarta seperti mereka. Jikapun jadi gembel, harus high class. Karena itulah kini Ijul tetap ada di sekitar tempat ia bekerja di masa lalu.

Di antara gedung-gedung bertingkat dan jalan-jalan megah dan lebar. Lalu lalang di trotoar berpapasan orang-orang yang berjalan cepat-cepat dan dering handphone dan pager memburu mereka. Makan siang atau sekadar minum kopi di resto-resto di basement gedung-gedung perkantoran.

Apa yang kau buru, Jul? Living! Hidup nyaman tanpa harus buang keringat dam peluh. Aku tak kan lagi bicara moral. F**k with morality. Aku bukan lagi orang yang munafik yang bersembunyi di balik topeng agama untuk pertahankan posisi dan prestiseku. Aku tak lagi mengejar imaji palsu tentang seorang baik-baik, ketika diriku inginkan kebuasan, very much kinky, sexual.

Apa yang ia lakukan hanyalah isi hidup orang lain. Isi hidup orang-orang yang tertipu dan menipu diri untuk hidup independen. Buktikan emansipasi perempuan, dan berkata secara vulgar dan terang bahwa mereka tak tergantung laki-laki ketika merekapun butuh teman hidup, apapun kelaminnya. Mereka sepi dalam hidup hanya karena salah pandang emansipasi. Mereka pikir emansipasi adalah kemandirian dan kesendirian, bukan kerja sama yang setara antar dua atau lebih manusia. Para munafik yang selalu tipu diri inilah sasaran Ijul untuk bertahan hidup.

Eksistensi mereka, sebagai pembeli, pemilik, membuat mereka isi perut dan pulsa handphone Ijul. Yah, aku memang parasit! So what? Temui mereka di saat makan siang, ajak obrol, tukar nomor telephone, dan sisanya proses akan terjadi, selayaknya reaksi kimia yang dipenuhi katalis hingga luar biasa cepatnya mereka bisa akrab dan intim dengan Ijul, dan kenyanglah perut Ijul.

***

Halo sayang

Sial, siapa ini? Ijul periksa layar Hpnya. Tak ingin salah sebut nama, salah sebut berakibat fatal. Bisa hilang satu sumber penghidupan. Chintya.

Hallo, Chintya cintaku Ada apa? Aku lagi di jalan.

Ah, Chintya betapa malam cepat berlalu jika dirimu hadir.Gairahmu slalu infeksi diriku

Kamu ada di jalan mana? Aku butuh kamu malam ini

Sorry, aku tak bisa. Bagaimana esok saja. Aku ada rapat eksekutif.

Ijul berbohong, rapat apaan, kerja saja tidak.

Oke, besok saja. Bye.

Klik.

Chintya yang munafik dan naif. Begitu mudah Ijul manfaatkan. Praktis semua yang Ijul miliki saat ini adalah pemberian Chintya. Lahir dari keluarga aristokrat Jawa yang memberinya kemunafikan dan dididik oleh University of Cambridge yang membuatnya naif. Tidak terlalu cantik tapi cukup sensual.

Bermalam-malam ia habiskan bersama Chitya. Hanya dengarkan keluh kesahnya tentang keluarganya, ayah ibu yang penuh kekolotan melarangnya kawin dengan Gregorius yang latolik, tentang Gregorius yang kemudian meninggalkannya, tentang hidupnya yang sepi setelah tanpa Gregorius dan desakan ayah ibunya untuk menerima pinangan seorang Raden entah namanya apa dan entah dari mana asalnya, yang pasti ningrat dan kaya.

Chintya, ah Chintyaku yang ternyata tak pernah dewasa, yang hanya impikan kebebasan tapi tak berani konfrontasi dengan adat dan paham tua dianut ayah ibunya.

Apa kata saudara-saudaraku nanti? Kakekku yang kerabat dekat Sultan bisa kena serangan jantung nanti.

Cukup sudah Ijul dengarkan tangis dan keluh kesah perempuan naif yang tak pernah dewasa ini. Chintya sudah bisa hidupi dirinya sendiri, peduli apa dengan keluarganya yang aristokrat kuno itu. Tapi kebebasan Chintya hanya dalam kemunafikan, di hadapan keluarganya ia berupaya menjadi anak yang baik dan berbakti, tapi ketika mereka tak ada, alterego yang selalu direpresi muncul dengan penuh keliaran dan kebuasan.

Dan Ijul alami keliaran tersebut bermalam-malam, seolah selalu haus akan tubuh Ijul. Dan hampir berhasil seret kesadaran Ijul untuk merekat pada Chintya. CUKUP!!! Jangan lewati batas perasaanmu. Tinggalkan dia sekarang, cari yang lain! Dan Ijul tinggalkan sebuah kertas kecil di dalam sebuah paket bunga mawar merah di depan pintu apartemen perempuan itu.

Kertas itu bertuliskan, Sorry. Ku tak lagi bisa teruskan hubungan kita. Ternyata jalan kita harus berbeda. Sorry, bye.

***

Lalu Ijul bertemu dengan Sylvia, perempuan ambisius yang menjadi seorang manajer sebuah perusahaan dotcom yang baru dibangun.

Mereka bertemu di sebuah kafe dengan pertunjukan musik Jazz live. Sylvia bersama teman-temannya sedangkan Ijul baru saja dari rumah Chintya, memang sedang memburu sumber hidup baru di kafe itu. Tak sengaja mereka terpaksa berbagi meja yang sama, lebih tepatnya tak sengaja untuk Sylvia sedangkan Ijul memang berniat begitu ia lihat sorot matanya. Sama dengan sorot mata Chintya. Sorot mata yang bosan atas hidup, justru sering merasa sepi di tengah keramaian yang hingar bingar.

Tapi Sylvia bukanlah seorang yang mengekang dirinya di dalam tembok kemunafikan adat dan paham tua para aristokrat. Ayahnya yang seorang pengusaha dan ibunya yang berasal dari keluarga pegawai pemerintah membuatnya miliki kesadaran yang relatif maju, lebih liberal. Sylvia dididik untuk menjadi ambisius dan fair serta berani berargumen. Perdebatan adalah hal yang wajar dalam keluarganya. Lalu Ijul pun terpaksa habiskan sore dengan perdebatan-perdebatan. Untunglah koleksi buku Ijul relatif banyak, jadi iapun dapat menyetarakan dirinya dengan Sylvia.

Tapi Sylvia adalah perempuan yang banyak menuntut kehadiran Ijul, meski ini menjadi modal Ijul untuk kemudian secara lebih terbuka untuk bergantung kepada Sylvia. Dan Sylviapun tahu hal itu, tapi tak keberatan. Tapi kemudian, bagaimana dengan Desi, Sinta, Rara, dan perempuan-perempuan lainnya?

Jul, saya mau makan siang di Blok M, kamu akan temani saya kan?

Jul, ban mobil saya kempes, kamu datang ke sini dong

Nanti malam Vina ngadain pesta, kamu datang temani saya ya. Jul, nanti malam kamu datangnya lebih awal yah, supaya saya ada teman.

Jul, kamu tinggal aja di rumah saya, supaya kita bisa lebih sering bertemu.

Dan Ijulpun kemudian menghilang dari hidup Sylvia.

***

Chintya dan Sylvia memang tak lagi warnai hidup Julian, meski beberapa perempuan seperti mereka tetap menjadi pemilik tubuh Ijul. Tapi kemudian hari-hari menjadi semakin membosankan dirinya, seolah gairah tak lagi berikan jiwa. Tak lagi rampaian bunga liar secerah hari-hari yang lalu ataupun kesegaran bulir-bulir embun di pagi hari.

Namun Sudirman dan gedung-gedung tinggi yang angkuh tetap menjadi tempat Ijul habiskan siang dan sore. Kafe dan Pub sekitar Jakarta tetap menjadi tempatnya habiskan malam. Dan perempuan-perempuan bersorot mata bosan atas hidup dan merasa sepi dalam keramaian tetap ia temani demi terisi perutnya dan pulsa handphonenya.

***

Jalanan kini dipenuhi orang, bergerombol, berteriak-teriak dengan megaphone, dan membawa bendera-bendera. Entah apa maknanya. Ijul tak peduli. Yang jelas Ijul sulit bertemu dengan perempuan-perempuan pemilik tubuhnya. Mereka jelas kini menghambat piring dan pulsanya terisi. Mereka hanyalah mengacaukan hidupnya, yang sudah sulit karena para perempuan pemilik tubuhnya mulai banyak yang kehilangan pekerjaan.

Lama kelamaan dan mau tak mau terpaksa Ijul menonton mereka. Ia dengarkan orang-orang yang muncul dari kerumunan yang kemudian berbicara dengan megaphone. Mereka bicara tentang ekonomi yang sulit. Mereka bicara tentang upah mereka yang rendah. Mereka bicara tentang penguasa yang tak pernah dengarkan kesusahan mereka.

Kawan-kawan, saat ini kondisi ekonomi semakin persulit hidup kita!

Ya, dan apa yang kalian lakukan sekarang semakin mempersulit ekonomi kita.

Banyak dari kita yang diberhentikan oleh perusahaan-perusahaan, karena mereka memilih mengamankan keuntungan yang telah mereka dapatkan.

Ya, itu betul. Itu betul, daripada bangkrut. Kalian juga yang akan rugi dan lebih banyak lagi yang di-PHK kan?

Kita yang bekerja, kita yang menghasilkan barang, kita yang membanting tulang, tapi kenapa kita yang susah hidupnya?

Ijul termenung. Ia ingat waktu ia masih bekerja. Ia ingat betapa bangganya ia atas hasil pekerjaannya. Lalu para pemegang saham memutuskan untuk menutup perusahaannya, membuat ia dan ribuan pekerja profesional lainnya kehilangan pekerjaan.

Lalu ia lihat bertruk-truk manusia berseragam mendekati ribuan orang yang sedang menutup jalanan itu. Mereka berlompatan dan dengan sigap menyandang senapan, pentungan, dan tameng.

Yang kita mau hanyalah upah kita dinaikkan dan kawan-kawan kita yang di-PHK diberi kerja kembali.

Hei, aku tak beda dengan mereka! Aku juga bisa dipecat setiap saat jika si pengupah menginginkan. Aku juga bekerja untuk upah yang layak, bukan bersembunyi di balik tipuan sumbangsih demi majunya Ibu Pertiwi. Aku ternyata sama dengan mereka. Aku adalah bagian dari mereka.

Para manusia berseragam dan bersenjata kini telah berbaris rapi. Pentungan mereka terlihat terayun-ayun dan tameng mereka dipegang erat.

Ribuan orang yang menutup jalan mulai terlihat gelisah, melihat kelakuan mereka yang berseragam dan bersenjata itu. Kepala demi kepala bermunculan, celingak-celinguk pandangi barisan rapi manusia berseragam dan bersenjata.

Mereka bergerak maju sambil ayunkan pentungan mereka. Beberapa mulai arahkan senapan kepada ribuan massa yang menutup jalan. Di belakang mereka sebuah truk besar dengan meriam air di atasnya.

Ribuan massa itu duduk bersamaan sambil bernyanyi-nyanyi.

Ijul terpana melihat gerak bersamaan ribuan orang duduk dan bernyanyi. Gema suara mereka mulai pengaruhi gairah Ijul. Aku sama seperti mereka. Aku sama seperti mereka!

Bumm!!! Sesuatu telah ditembakkan, dan asap putih menyesakkan paru-paru selimuti sekitar Ijul. Mata juga terasa perih. Ijul terbatuk-batuk, ingin rasanya lari mencari udara segar, namun tak ada udara segar di sekitarnya.

Bangsat! Keparat!

Manusia-manusia berseragam dan bersenjata mulai berlari ke arah ribuan orang yang masih menutup jalan. Mereka menerjang, menendang, memukul, dan menembak siapapun yang halangi jalan mereka. Banyak yang mengaduh, banyak yang menangis, dan banyak yang berlari tunggang langgang. Namun Ijul masih terpaku, terpana, dan masih terbatuk-batuk.

Ia teringat betapa cintanya pada kerja dan bangganya pada hasil kerjanya. Ia teringat bingungnya ia ketika hilang pekerjaannya. Ia teringat Sylvia dan Chintya, dan perempuan-perempuan seperti mereka yang ia harus temani dan setubuhi untuk pelihara gaya hidupnya. Ia teringat ternyata ia lebih bodoh dari kerah biru yang dulu ia sepelekan. Ia teringat rampaian bunga liar dan hamparan bulir-bulir embun di pagi hari, yang selalu bangunkan tidurnya.

Seseorang meletakkan sebuah botol minuman ringan bersumbu sumpalan kain di tangannya. Dan seorang lainnya berlari di hadapannya, membawa botol yang sejenis dengan sumbu yang sudah terbakar. Lalu orang itu lemparkan botolnya ke arah para manusia berseragam dan bersenjata.

Aku sama dengan mereka! Aku sama seperti mereka! Hasil jerih payahku dirampas dan aku di-PHK sekehendak si pengupah!

Lalu Julian, si gigolo malu-malu, si parasit setengah hati, melemparkan molotov ke arah barisan manusia berseragam dan bersenjata

Jakarta, 2001

Aucun commentaire: