29 décembre 2000

Kisah Enam Puluh Juta Rupiah

Julian Verne
(theredinparis.blogspot.com)

Sore kembali menjelang. Semilir angin lembut masuk ke dalam kamar kecil yang disesaki komputer, meja, buku-buku, printer, dan ransel. Matahari sore pancarkan sinar yang tembus jendela kamar itu, menyorot tepat di mata seorang laki-laki lusuh yang tidur terlentang. Semilir angin dan sorot mentari sore gugahkan kesadarannya. Laki-laki itu terbangun dan duduk, meski wajahnya masih ingin kembali berbaring dan tidur lebih lama lagi. Arlojinya beritahukan hari ini tanggal 31 Desember. Kertas-kertas berserakan di sekitarnya, ingatkan dia tentang sebuah janji sore ini. Entah apa.

***

Sebuah sore yang pengap, kemarin.

Hujan menjelang dan awan kelabu sumbat cahaya matahari sore. Laki-laki itu juga baru saja terbangun dari tidurnya, semenjak ia pulang dari kelilingi kota antarkan paket-paket titipan berupa-rupa. Pengapnya udara dan suara petir bersahut-sahutan merasuki otaknya dan hancurkan sebuah mimpi indah.

Biiip! Biip! Bip!

Aaah, baru terbangun harus juga terganggu pager. Dan di mana pager sialan itu?

Laki-laki itu merangkak menjelajahi kamar ukuran 2x3 m itu. Ia buka ranselnya. Tidak ada. Ia periksa kantung-kantung celananya. Tidak ada. Ia bolak-balik buku-buku dan kertas-kertas yang menyeraki lantai kamar itu. Tidak ada juga. Lalu laki-laki itu menengok ke pintu, satu-satunya pintu di kamarnya, dan tergantunglah sebuah benda bernama pager itu tertambat pada paku yang menempel di kusen pintu.

Sial, kapan aku taruh pager itu di sana?

Dengan sedikit berjinjit ia ambil pager itu. Di layar berkelap-kelip tanda seru, memberitahukan ada pesan masuk.

JUL, SGR HUB. KANTOR: RANDI. (17.10)

Ia letakkan pager itu di antara kertas-kertas yang berserakan, di samping sebuah amplop coklat besar. Lalu ia mengais-ngais tumpukkan kertas lainnya di salah satu sudut kamar. Mana peanas air keparat itu? Kenapa selalu bersembunyi ketika aku butuhkan?

Akhirnya ia temukan juga pemanas airnya. Setelah ia colokkan stekernya, ia masukkan batang pemanas tersebut ke sebuah gelas berisi air. Dari kantongnya ia keluarkan satu sachet Capuccino. Ia tunggu airnya mendidih, sambil menatap amplop besar coklat itu, yang sebelum tidur ia telah buka.

Kenapa aku harus curi amplop keparat ini? Kenapa aku mudah tergoda untuk rampok isinya dan lihat surat yang sertainya? Ah, impian sial itu kini telah buatku susah.

Lama sudah memang ia impikan sebuah liburan ke Bali dengan sebelum dan sesudahnya menghampiri kota-kota kenangan masa lalunya, Bandung, Yogya, dan Malang. Terbayang selalu setiap ia istirahat di warung-warung melepas lelah sehabis antarkan paket-paket titipan, menikmati malam di sebuah restoran yang berpemandangan kota Bandung di puncak Dago bersama Arissa, pujaan masa lalunya. Lalu berjalan-jalan sepanjang Malioboro mencari-cari suvenir dan menikmati Susu Macan bersama Nidya, perempuan yang pernah beri hidupnya arti meski cuma sesaat. Dan menghabiskan malam dingin bersama Ratih, sepupu jauhnya yang dulu pernah berikan semalam penuh gairah.

Perjalanan impian Ijul memang hanya untuk membayar utang-utang kenangan masa lalu yang belum pernah ia tebus. Hanya untuk buktikan diri kepada perempuan-perempuan itu bahwa merekalah pembentuk Ijul yang sekarang, yang kini tak lagi jadi parasit kepada siapapun. Ijul yang mandiri dan punya kerja tetap untuk cukupi hidupnya.

Didih air hempaskan lamunan Ijul. Dengan enggan ia angkat batang pemanas air dan cabut stekernya. Segelas Capuccino kini terseduh dan siap dihirup. Nanti dulu, jangan kau minum dulu Capuccino itu! Sebatang sigaret kretek tercabut dari kotaknya, dan kemudian tersulut di mulut Ijul. Ia hisap dalam-dalam dan puf, Gaskoo Entah kenapa Ijul mengeluarkan kata tak berarti itu sekarang, kata yang dulu selalu diucapkan teman obrolnya di masa yang telah lalu.

Aaaah, kenangan masa lalu yang nyaman dan indah selalu saja ganggu hidupku di kala sepi! Kenapa tak pernah bisa kunikmati hidup sunyiku sekali saja tanpa romantisme?

Baru saja ia angkat Capuccino untuk dekati bibirnya, pager kembali berbunyi.

JULIAN, SGR HUB. KANTOR: RANDI. (17.50)

Kinipun Randi sudah panggilku dengan nama lengkap. Luar biasa. Dan Ijul segera tinggalkan kamar sumpeknya, mencari telepon umum.

***

Hallo, Randi?

Siapa ini? Ijul ya?

Yap. Ada apa?

Ada apa, ada apa Bangsat, otakmu ditaruh di mana? Kenapa paket amplop coklat itu belum kau antarkan? Awas, jangan macam-macam kau! Bisa dipecat kau nanti!

Sudah aku antarkan, tadi siang!

Kalau tadi siang sudah kau antarkan, kenapa pengirimnya bilang paketnya belum sampai?

Hah?

Dan penerimanya akan datang kemari. Lima belas menit lagi. Dengar! Aku ini teman baikmu. Daripada kau curi dan nanti malah dipecat, segera kemarikan amplop coklat itu. Aku tahu kau belum

Klik.

Ya! Memang belum aku antarkan.

***

Siang yang sangat disirami terik sinar matahari, kemarin.

Tangan Ijul merobek ujung amplop besar berwarna coklat. Tak dapat ia tahan godaan untuk membukanya, meski ia tahu amplop itu bukan untuknya. Untuk seseorang yang ia pikir tak akan pernah ia kenal dalam hidupnya. Seseorang yang tinggal di sebuah rumah sederhana berdinding batako tanpa plester. Apa isinya? Begitu padat, begitu tebal amplop ini.

Tangannya cukup cepat memberikan informasi kepada otaknya. Kertas-kertas terikat berbongkah-bongkah dan selembar kertas. Sesuatu yang berharga, pastilah. Ia tarik bongkah demi bongkah kertas itu.

WOW! Satu, dua, tiga, , lima, dan enam ikat. Enam ikat uang seratus ribuan. WOW! Enam puluh juta rupiah, dikirimkan dalam sebuah amplop besar bewarna coklat melalui sebuah jasa pos partikelir! Gila benar pengirim uang ini! Kenapa tak melalui bank saja? Peduli bangsat! Di depanmu kini ada enam puluh juta perak, yang bisa penuhi impian-impianmu selama ini. Untuk apa menjadi peduli?

Lalu Ijul baca tulisan di atas selembar kertas pengiring uang tersebut.

KERJA KEMARIN SUDAH BAGUS. INI PEMBAYARANNYA. SISANYA SETELAH ORDER TAHUN BARUAN.

Entah apa kerja kemarin, Ijul tak peduli. Yang ia bayangkan saat ini adalah liburan impiannya. Tak perlu tunggu lagi tabungannya yang semenjak enam bulan lalu selalu kembang kempis. Tak perlu naik bis dan kereta ekonomi. Argo Bromo menanti!

Dan setelahnya, ia datangi alamat penerima. Untuk antarkan sebuah amplop besar berwarna coklat, yang telah ia rekatkan kembali tutupnya. Yang telah ia ganti isinya dengan selembar kertas bertuliskan: PEMBAYARANNYA SETELAH ORDER TAHUN BARUAN. Dengan huruf yang juga sama, tentunya.

Yang menerima paketnya adalah seseorang, berambut cepak, yang wajah kotaknya pernah Ijul lihat di suatu waktu lain, entah kapan dan entah di mana. Wajahnya yang keras tersenyum lebar ketika tangan kekarnya yang berkulit gelap dan dipenuhi bekas-bekas gores dan lecet, menandatangani surat tanda terima. Dan Julian segera pulang ke tempat tinggalnya dengan penuh sukacita.

Enam puluh juta rupiah di dalam ranselnya!

***

Malam bergerimis dan angin kencang, kemarin.

Kata-kata Randi menyentakkannya. Orang kekar itu sudah tahu uangnya ia curi dan ia akan datangi kantornya sekarang. Pastilah! Tak seorangpun akan mengirim uang, apalagi sebanyak enam puluh juta, dalam sebuah amplop coklat melalui jasa pos partikelir tanpa beritahu penerimanya. Wajah keras dan tangannya yang kekar itu kini membuatnya sedikit bergidik.

IQ is not the problem here,
But my enemy is a neanderthal
(Seven Days, Sting)

Tak ada nyali untuk kembali ke tempat tinggalnya. Ciut juga keberaniannya untuk berjalan-jalan malam hari. Si Neanderthal itu bisa menangkapku. Otaknya berpikir keras tentang tempat sementara untuk bersembunyi, minimal malam ini. Akhirnya ia putuskan pergi ke sebuah warung internet yang buka 24 jam, dan lumayan ramai komputer dan pengunjungnya.

***

Hujan berhenti tengah malam, kemarin.

Tak sengaja ia temukan sebuah berita di sebuah portal, dan ternyata juga di halaman utama portal-portal lainnya selama berhari-hari. Bom meledak di belasan kota kurang dari seminggu yang lalu. Kenapa aku lupa? Puluhan gereja berantakan. Puluhan tewas dan puluhan orang lainnya luka-luka. Sebuah sketsa yang mirip dengan Si Neanderthal. Seorang sosiolog berkata, Ini adalah upaya untuk mengadu domba masyarakat. Ingat saja kasus Ambon Seorang perwira tinggi kepolisian berkata, sampai saat ini kami belum bisa menjamin tak ada bom lainnya yang meledak.

Ah, paling-paling tentara juga yang melakukannya. Siapa yang bisa membom bersamaan dengan peledak berdaya tinggi, kecuali orang-orang militer?

Otaknya berhenti berpikir tiba-tiba. Si Neanderthal yang memang mirip tentara. KERJA KEMARIN SUDAH BAGUS. Enam puluh juta di ranselnya. Dan surat itu menyatakan, masih ada ORDER TAHUN BARUAN! Besok tanggal 31 Desember!

Ia download semua berita-berita tentang pemboman itu, dan langsung mencetaknya. Klik sana, klik sini, dan sepertinya waktu berjalan begitu cepat. Pagi menjelang dan kantuk mulai mengganggunya. Lalu tanpa sadar Ijul terlelap.

***

Aih, beli apa lagi ya? Handphone sudah. Notebook, sudah. CD player yang bisa putar MP3, sudah juga. Baju baru, celana baru, dan sepatu baru, ah, sudah, sudah, dan sudah.

Ijul kini bergerak di antara rak-rak CD, memilih-milih CD pemusik-pemusik kesukaannya. Belum pernah ia rasakan kemewahan seperti ini. Seperti uangnya tanpa batas. Tak tanggung-tanggung, puluhan CD ia borong, membuat para pelayan toko musik itu tersenyum-senyum kesenangan. Bonus akhir tahun mereka bertambah!
Ia dekati meja kasir, seorang perempuan manis berambut sebahu menjaganya. Ia tersenyum dan, astaga, ia mirip sekali dengan Nidya. Nidyaku yang sudah beri arti besar hidupku, meski ia bersamaku hanya sesaat.
Sudah makmur kau sekarang, Julian, katanya sambil tersenyum, manis sekali.

Ya, ia memang Nidya.

Tampak Nidya sedikit letih, meski senyumnya memang tetap saja manis. Maklum saja, pengunjung toko musik ini cukup banyak hari ini, entah mengapa. Kehendak dirinya timbul untuk ajak Nidya makan malam di satu tempat yang indah, dan habiskan malam bersamanya sampai mentari kembali terbit.

Tak sengaja ia melihat keluar. Sebuah Jimny sedang memarkir dirinya. Orang melewatinya begitu saja, tak peduli jendelanya perlihatkan kotak-kotak besar di dalamnya. Dan pintu pengemudi terbuka, sejenak kemudian Si Neanderthal keluar dari sana. Ia melihat ke arah Ijul, membuka kacamata hitamnya, tersenyum lalu lambaikan tangannya. Ijul tersentak diam, keringat dingin penuhi wajahnya.

Jangan, jangan pukuli aku! Ini, ini ambil uangmu! Tapi jangan siksa aku!

Tapi si Neanderthal membalikkan badan, bergerak meninggalkan pusat perbelanjaan ini yang dipadati orang karena tempat ini satu-satunya yang buka di libur panjang Natal, Lebaran, dan Tahun Baru. Meninggalkan sebuah Jimny tua berisi kotak-kotak besar.

Kotak-kotak besar? Wajah Ijul menjadi lebih pucat. Jimny itu berisi bom!

Jul, kenapa, sakit?

Awas, Nidya, mobil itu berisi b...

Teriaknya terlambat, kelebat cahaya menyilaukan menyeruak membelah Jimny itu. Hamburan kaca dan benda-benda keras menghujam masuk ke dalam toko musik. Dan dentuman besar mengakhiri semuanya.

***

Nidya! Nidya! Nidya!

Tangan kuat mencengkeram tengkuknya, bangunkan kesadarannya. Layar komputer ada di hadapannya, dan kertas-kertas print-out di sampingnya. Hanya untuk silaukan matanya. Tapi cengkeraman di tengkuknya hentikan gerak tubuhnya. Tangan yang lain telah kunci lengan Ijul.

Heh, bangsat tengik! Ketemu juga kau!

Si Neanderthal sudah temukan dirinya!

Tubuhnya dibalikkan. Kini ia menghadap ke sebuah badan besar dan sebuah muka kotak yang kini semakin menyeramkan karena amarah. Dan klik! Bukan suara mouse, tapi dari sebuah benda dingin yang menempel di pelipisnya.

Apa ini? kata Si Neanderthal sambil mengacung-acungkan kertas print out ke muka Ijul.

Sudah mencuri uangku, menghambat kerjaku, kini kau mau tahu apa kerjaku? Hah!

Ijul terdiam, menatap moncong pistol yang mengarah ke daerah di antara dua matanya.

Ayo, jalan. Dan jangan ribut! Kalau masih sayang dengan nyawamu kata Si Neanderthal berbisik di dekat mukanya. Napasnya bau sekali, sampai Ijul ingin muntah.

Entah mengapa Ijul tak yakin Si Neanderthal benar-benar akan membiarkannya hidup. Tapi ia turuti saja kemauan orang itu. Sampai kepala-kepala bermunculan dari bilik-bilik komputer lainnya. Warnet ini ternyata masih penuh. Kepala-kepala itu bergerak mendekat sambil terus-menerus menatap mereka berdua.

Lalu ada gejolak dalam diri Ijul. Ada kehendak besar untuk lari, selamatkan nyawanya. Dan keberanian itu muncul bersamaan dengan kesempatan. Si Neanderthal terkejut betapa banyak orang di dalam warnet. Hardikkannya tadi ternyata kagetkan banyaqk orang dan buat mereka curiga. Tanpa sadar kakinya menendang sebuah tong sampah plastik. Terkejut, engkeramannya pada tubuh Ijul mengendor. Lalu kesempatan ini segera dimanfaatkan Ijul. Ia tendang kaki Si Neanderthal dan terlepaslah ia dari cengkeraman orang itu. Tapi pistol itu meletus, tak sengaja. Dor!

Sekuat tenaga ia rampas ranselnya dan berteriak, Tolong! Rampoook! Rampook!

Dan Ijul lari ke arah orang-orang yang mendatanginya.

Segalanya berlangsung cepat. Si Neanderthal kini dipukuli oleh puluhan orang. Ia berteriak, Saya anggota! Saya anggota! Tapi orang-orang tak peduli. Mau ngerampok ya! Udah bunuh aja! Dor! Dor! Dua orang rubuh tertembak. Tapi orang-orang itu bukannya takut dan mundur, mereka malah semakin kalap. Kurang ajar! Rampok bangsat! Bunuh! Bunuh! Prang! Kepala Si Neanderthal dipukul oleh sebuah botol minuman ringan. Ahh, aduh! Aduh! Ampun! Jangan bunuh saya! Jangan!

Ijul melihat orang-orang menghujani Si Neanderthal dengan tikaman demi tikaman botol-botol pecah. Lari! Lari sekarang!

***

Pagi masih mendung, hari ini. 31 Desember. Tapi burung-burung berkicau ceria. Tukang-tukang ojek mengantarkan para orang-orang yang mau bepergian ke tempat penantian bus. Para ibu, anak gadis, ataupun pembantu-pembantu mereka sedang beringsut menuju pasar. Para bapak sedang berjoging atau mendengarkan suara perkutut mereka. Hari libur yang normal. Dan Ijul masih berlari menuju tempat tinggalnya. Hanya untuk kemudian ambruk di atas ranjang kecilnya, meski kertas-kertas berisi berita dari portal-portal internet menghambur dari tasnya. Hanya satu yang melintas dalam pikirannya sebelum tidur. Aku harus telpon Nidya nanti sore.

***

Hallo. Nidya ada?

Ya. Saya sendiri. Siapa ini?

Ia telah lupakan diriku...

Ini aku, Julian.

Oh, Ijul. Apa kabar? Sudah lama tak ketemu. Ada angin apa kamu telpon saya?

Ada angin apa? Seperti bicara dengan orang yang bukan spesial saja.

Bisa jemput aku besok sore di airport? Aku mau ke Yogya! Aku rindu kamu!

Sayang sekali, aku tak bisa. Malam ini aku bersama suamiku berangkat ke rumah mertuaku Biasa silaturahmi
Mertua? Silaturahmi?

Klik.

Rasa badan Julian lemas. Utang penantian tak mungkin dibayar sekarang. Hanya Nidya yang terkenang ketika tekanan hidup tiba-tiba melonjak. Dan kini tak mungkin dikembalikan masa lalu yang telah beri arti bagi hidupnya.

***

Lalupun hari kembali bergerak. 1 Januari. Hanya untuk kemudian digantikan hari yang lain. Tak ada yang khusus, hanyalah menggoda jiwa untuk pikirkan kepenatan yang telah lalu. Kepenatan yang sudah bawa jalan yang salah, meski jalan salah itu telah beri juga sebuah hari baik. Di kota-kota lain ledakan-ledakan bom mengguncang hidup jutaan orang penghuni mereka. Puluhan gedung hancur. Termasuk sebuah airport di Yogya, dari sebuah pesawat terbang yang tadinya akan ia tumpangi. Namun tidak di kotanya. Tak satupun bom meledak atau ditemukan di kotanya, meski sebelumnya jumlah tempat meledaknya bom jauh lebih banyak. Ya, jalan salah itu justru telah beri hidupnya hari baik.

Lagipula, ENAM PULUH JUTA RUPIAH MASIH DI RANSELNYA!

Jakarta, 29 Desember 2000

Aucun commentaire: